Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Pancasila
Oesman Sapta: Pancasila Alat Pemersatu Bangsa
2019-08-08 11:29:44
 

Wakil Ketua MPR Oesman Sapta.(Foto: Istimewa)
 
PEKANBARU, Berita HUKUM - Wakil Ketua MPR Oesman Sapta menilai penguatan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda sangat perlu dan penting sekali. Sebab masih ada kelompok masyarakat yang mengabaikan konsensus bernegara itu.

"Sebagai pimpinan lembaga negara,saya cukup prihatin jika mendengar ada sekelompok masyarakat yang mulai mengabaikan konsensus bernegara kita," katanya dalam kuliah umum dan transfer energi dengan tema "Pancasila dan Narasi Kebangsaan Kita" di Universitas Riau, Pekanbaru, Rabu (7/8). Kuliah umum ini merupakan salah satu agenda dalam pengenalan kehidupan kampus yang diikuti 1.253 mahasiswa baru Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Riau.

Dalam kuliah umum itu Oesman Sapta menceritakan percakapan antara Bung Karno dan Presiden Yugoslavia Tito. Dalam percakapan itu Tito membanggakan kekuatan militer untuk mempertahankan bangsanya. Sedangkan Bung Karno mengatakan telah mewariskan Indonesia dengan sebuah way of life yang bernama Pancasila.

"Sejarah membuktikan Yugoslavia yang mempunyai militer yang kuat sekarang telah pecah menjadi beberapa negara. Sementara Indonesia yang wilayahnya luas dengan ribuan pulau dan suku-suku tetap tegak dengan NKRI," papar pria yang akrab disapa Oso ini.

"Kuncinya adalah satu, karena kita punya ideologi pemersatu yang bernama Pancasila. Pancasila menjadi pandangan hidup sekaligus alat pemersatu bangsa Indonesia. Karena Pancasila, masyarakat Jawa ikut bersedih ketika masyarakat Riau mengalami kebakaran hutan dan lahan," tambahnya.

Menurut Oso, itulah kekuatan ideologi yang bernama Pancasila. Maka tidak heran Soekarno pernah mengajak bangsa-bangsa di dunia untuk menggunakan Pancasila sebagai ideologi.

"Mengapa Pancasila ideologi yang paling tepat?" tanya Oso. Dia lalu menjawab, "Karena Pancasila bukan ideologi impor. Pancasila adalah ideologi yang dilahirkan anak-anak bangsa Indonesia, yaitu tokoh ulama, cerdik pandai, dan pemimpin-pemimpin nasional pada saat itu. Nilai-nilai Pancasila digali dari bumi Indonesia. Selain itu Pancasila adalah ideologi yang tidak melawan kodrat," katanya.

Kepada mahasiswa baru FKIP Unri, Oso berpesan untuk mencari pengalaman mengajar. Tidak hanya menguasai teori tetapi juga pengalaman mengajar agar menjadi guru yang baik dan teladan bagi murid serta menghasilkan murid yang cerdas dan bermartabat.

"Negara yang maju adalah negara yang menghargai pendidikan. Negara yang maju adalah negara yang mengerti tentang filosofi pendidikan. Negara yang maju adalah negara yang mampu mendidik anak-anak menjadi orang pintar, cerdas dan bermartabat," katanya.

Kuliah umum dan transfer energi ini diakhiri dengan Deklarasi Jaga Pancasila dan Menolak Paham Radikalisme. Hadir Rektor Unri Prof Dr Aras Mulyadi, Dekan FKIP Unri Dr. Mahdum.(mpr/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Pancasila
 
  Pancasila Dilaksanakan, Jangan Diingkari
  Syarief Hasan Dukung Penuh Pancasila Masuk Kurikulum Pendidikan Nasional
  Menerima Pancasila Sebagai Dasar Negara Adalah Keputusan Strategis
  HNW: Pancasila Bukti Kedekatan Hubungan Antara Agama dan Negara
  Pancasila Hadir Karena Kenegarawanan Para Pendiri Bangsa
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2