Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Rohingya
Malala Serukan Perlindungan internasional bagi Rohingya
2017-09-08 13:54:13
 

Malala mengatakan pula bahwa ia gugup untuk memulai hidupnya yang baru sebagai mahasiswa di universitas Oxford.(Foto: Istimewa)
 
INGGRIS, Berita HUKUM - Gadis belia Pakistan pemenang Nobel perdamaian, Malala Yousafzai menyerukan 'komunitas global' untuk terlibat melindungi kaum Rohingya, di Myanmar.

Ia mendesak pendahulunya di Nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi yang sekarang merupakan pemimpin de facto Myanmar, untuk berbicara tegas membela kaum Rohingya.

"Kita tak bisa bungkam. Jumlah yang terusir dari kampungnya sudah mencapai ratusan ribu," kata Malala kepada BBC.

Berbicara di Oxford, tempatnya yang baru sesudah diterima di universitas kota itu yang terkenal, ia menegaskan bahwa masyarakat internasional harus bereaksi terhadap Krisis Rohingya.

Rohingya refugeesHak atas fotoREUTERS
Image captionPara pengungsi Rohingya berusaha mencapai Bangladesh, dengan berjalan kaki.

Pegiat HAM ini adalah korban selamat dari upaya pembunuhan Taliban pada tahun 2012 kendati menderita luka tembak di kepalanya.

Ia diincar Taliban karena mempromosikan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Masalah hak asasi manusia

"Saya kira kita tidak bisa membayangkan barang satu detik sekalipun, bagaimana kalau kewarga-negaraan kita, hak kita untuk hidup di negara kita, diingkari sepenuhnya," kata Malala.

"Warga terusir dari kampung mereka dan mengalami kekerasan. Ini masalah hak asasi manusia. Pemerintah di seluruh dunia harus bereaksi."

"Anak-anak tidak bisa sekolah, tidak bisa mendapat hak-hak dasar mereka, dan hidup dalam situasi terorisme, Kehidupan begitu berat karena begitu banyak kekerasan di sekeliling mereka," kata Malala.

"Kita perlu bangun untuk menanggapinya. Dan saya harap Aung Sang Suu Kyi menanggapinya pula," katanya.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Rohingya
 
  Rohingya: 'Lebih Baik Bunuh Kami, Daripada Deportasi Kami ke Myanmar', Permintaan Pengungsi yang Terkatung-katung Hidupnya
  Myanmar: Cerita Para Pengungsi Rohingya yang Terjebak di Pulau Terpencil - 'Kamp Ini Seperti Penjara Besar'
  Aung San Suu Kyi: Dulu Simbol Demokrasi, Kini Dituding Persekusi Muslim Rohingya
  Muslim Rohingya Tuntut Keadilan di Mahkamah Internasional: 'Myanmar Harus Bertanggung Jawab Terjadinya Genosida'
  Krisis Rohingya: Demonstrasi Tandai Peringatan 2 Tahun di Pengungsian
 
ads1

  Berita Utama
KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta

BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu

Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi

Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah

 

ads2

  Berita Terkini
 
• KPK Tangkap Sestama BNPB dan 13 Pejabat termasuk Pihak Swasta

• BAM DPR Terima Aduan Warga Kebon Sirih Soal Tukar Guling Masjid Al Hurriyah dan Soroti Lokasi Pengganti di Pasar Minggu

• Pergantian Kapolri, Suyudi Ario Seto Resmi Pimpin Korps Bhayangkara Gantikan Listyo Sigit Prabowo

• Pasal 18 PKPU Nomor 19/2023 Diduga "Selundupan" Syarat Pendidikan, Pemohon MK: Gibran Didiskualifikasi

• Temuan Ombudsman, Lapas Cibinong Diduga Kelola Hunian Napi ala Villa Mewah

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2