Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
    
Suriah
Ikatan Alumni Suriah Harap Pemilu Damai Tanpa Hoaks
2019-02-13 17:41:48
 

Ketua Ikatan Alumni Syam (Suriah) Indonesia (Alsyami), Ahmad Fathir Hambali ( Kiri).(Foto: BH /mos)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Beredarnya informasi, kabar, berita bohong atau hoaks dinilai dapat menjadi faktor utama yang menyebabkan terganggunya stabilitas keamanan di suatu negara. Seperti contoh, yang terjadi di salah satu negara Timur Tengah, Suriah.

"Jadi di Suriah menurut pengakuan dari rakyat Suriah sendiri, dari pemangku Suriah yaitu pemerintah secara resmi, konflik yang terjadi di Suriah itu 70 persen disebabkan oleh medsos (media sosial) yang mengabarkan hoaks atau kabar palsu," ujar Ketua Ikatan Alumni Syam (Suriah) Indonesia (Alsyami), Ahmad Fathir Hambali di Jakarta, Rabu (13/2).

Oleh karena itu, Fathir berharap masyarakat dapat cerdas menyikapi penyebaran hoaks, terutama jelang Pemilu 2019. Agar apa yang terjadi di Suriah, tak terjadi di Indonesia.

"Untuk itu kita mengimbau, Suriah kan hancur disebabkan 70 persen karena hoaks. Kita mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya pada jelang pemilu ini, jika ada orang yang memberikan kabar maka carilah dan telitilah kabar tersebut," kata dia.

Fathir mengingatkan agar kedamaian yang berlangsung saat ini di Indonesia dijaga. Terlebih di masa pemilu, di mana potensi perpecahan sesama anak bangsa begitu besar. Ia tak ingin kondisi Indonesia berakhir seperti Suriah yang dilanda perang akibat kepentingan kelompok.

Apabila terdapat perbedaan kala pesta demokrasi, ia berharap disikapi secara lumrah dan wajar. Fathir meminta perbedaan dinilai sebagai kondisi masyarakat untuk saling melengkapi, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa terjalin.

"Setelah mereka (rakyat Suriah) merasakan perang hampir 9 tahun ini, mereka menyesal kenapa kok dulu mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi, partai dan sebagainya, dan tidak mementingkan kepentingan negaranya dan kedamaian. Di Indonesia mudah-mudahan tidak seperti itu. Nah sebelum terjadi kita harus bersyukur kita kan sekarang pergi ke mana saja nyaman bisa hidup tentram. Itu harus kita jaga dan pertahankan dan jangan sampai hanya kepentingan lima tahunan ini, kita melupakan nikmat kedamaian," pungkasnya.(bh/mos)



 
   Berita Terkait > Suriah
 
  Presiden Assad dapat Suaka di Rusia, Pemberontak HTS Kuasai Damaskus
  Konflik Suriah: Turki dan Rusia Sepakat Umumkan Gencatan Senjata 'Bersejarah'
  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Bersumpah Melanjutkan Operasi Militer di Suriah Utara
  Serangan Turki di Suriah, Jumlah Korban Meninggal dan Pengungsi Melonjak
  Erdogan: Pasukan Turki Lancarkan Serangan di Suriah untuk Dirikan 'Zona Aman'
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2