Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
White Crime    

Dua Mantan Dirut Peruri Divonis Ringan
Thursday 18 Aug 2011 15:51:07
 

Terdakwa Kusnan Martono (Foto: Istimewa)
 
*Dituntut 8,5 Tahun Tapi Hanya Dihukum Dua Tahun dan 1,5 Tahun Penjara

JAKARTA-Dua mantan Direktur Utama Perusahaan Umum Percetakan Uang Negara (Perum Peruri) Kusnan Martono dan Marlan Arief divonis bersalah. Kedua dinyatakan terbukti secara sah meyakinkan bersalah, karena melakukan tindak pidana korupsi oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor.

Dalam persidangan yang digelar secara bergantian di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (18/8). Terdakwa Kusnan dijatuhi hukuman pidana penjara selama dua tahun penjara, membayar denda Rp 100 juta subside tiga bulan kurungan dan mengembalikan uang pengganti korupsinya sebesar Rp 205 juta dan 1.000 dolar AS.

Sedangkan rekannya, terdakwa Marlan Arief diganjar dengan pidana penjara selama 1,5 tahun penjara, denda Rp 50 juta subside dua bulan kurungan dan mengembalikan uang korupsi Rp150 juta dan 500 dolar AS. Vonis ini jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama 8,5 tahun kurungan.

Dalam putusannya tersebut, mejelis hakim yang diketuai Mien Trisnawati menyebutkan, kedua terdakwa terbukti menyalahgunakan wewenangnya dalam kasus pengelolaan dan penggunaan Biaya Operasional Direksi (Biopsi) di Perum Peruri tahun 2002-2007. "Menyatakan, terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," ujar dia mengutip amar putusannya.

Kemudian, menanggapi putusan ini, baik pihak Kusnan dan pihak Marlan sama-sama menyatakan akan pikir-pikir terlebih dahulu baru memutuskan apakah akan banding atau tidak. Sikap serupa juga disampaikan penuntut umum kepada majelis. Pasalnya, putusan majelis tersebut jauh lebih ringan dari tuntutannya.

Kasus ini bermula dari dikeluarkanya surat keputusan direksi mengenai Biaya Operasional Direksi (Biopsi). Namun, atas persetujuan Kusnan, Direktur Keuangan Perum Peruri, Islamet, yang diketahui telah meninggal dunia, mengambil uang tersebut dari kas perusahaan selama beberapa kali.

Berdasarkan surat keputusan No 256, uang yang diambil Rp1,5 miliar dan Rp500 juta. Lalu, surat No 650 diambil Rp10 miliar, surat No 44 diambil Rp400 juta, surat No 261 diambil Rp1 miliar. "Jumlah keseluruhan uang Peruri yang ditarik dan ditempatkan dalam kas Biopsi adalah Rp 13,4 miliar," kata hakim anggota Albertina Ho.

Akhirnya, uang biopsi tersebut digunakan untuk kegiatan sosial karyawan (uang duka, hajatan, rekreasi, biaya rapat), servis kuasa hukum, untuk uang transportasi Kementerian BUMN, uang transportasi untuk BPKP, mantan pegawai Peruri, DPR, Kejaksaan, dan pengacara negara.(spr)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2