Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
Ekonomi Indonesia
Haedar Nashir Tegaskan Ekonomi dan Politik Liberal Bertentangan dengan Nasionalisme Indonesia
2023-09-09 09:32:56
 

 
JAKARTA, Berita HUKUM - Menyikapi ekonomi liberal yang sedang berlangsung di Indonesia sekarang, seyogyanya konsep ekonomi Indonesia dikembalikan pada pondasi awalnya bahwa ekonomi Indonesia adalah ekonomi rakyat dan negara hadir untuk memimpin supaya tidak diserahkan ke pasar.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengutip atas yang disampaikan oleh Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta. Haedar mengungkapkan konsep ekonomi tersebut juga memiliki dasar pada Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945.

Menghadapi ketimpangan ekonomi yang ekstrim dalam tubuh bangsa Indonesia, Haedar pada (7/9) dalam Kuliah Umum di UII mengajak kepada seluruh elit tanpa terkecuali untuk menghayati pemikiran-pemikiran dasar, dan menghargai pondasi yang diletakkan oleh pendiri bangsa seperti itu.

"Kemudian ketika Bung Karno mengatakan indonesia milik semua bukan satu golongan. Adakah oligarki politik ekonomi budaya, adakah indonesia menentukan suksesi kepemimpinan hanya dikuasai hanya segolongan orang, segolongan pihak atas nama apapun," ungkap Haedar.

Tegas Haedar mengatakan, supaya elit untuk senantiasa melakukan introspeksi diri, bahwa setiap oligarki dalam bentuk apapun bertentangan prinsip nasionalisme, sebagaimana yang disampaikan oleh Ir. Sukarno. Termasuk menyerahkan ekonomi Indonesia ke pasar, hal itu juga bertentangan dengan nasionalisme.

"Lalu ketika ekonomi kita misalkan dikuasai oleh sekelompok orang inikan kenyataannya, apakah itu tidak sejalan atau bertentangan dengan pasal 33, dan ketika semuanya investasi dan segala keputusan keputusan politik ekonomi diserahkan kepada pasar termasuk pasar global apakah itu sejalan atau bertentangan dengan pasal 33," tanya Haedar.

Politik Liberal

Liberalisasi selain terjadi di ekonomi, juga lebih-lebih terjadi dalam bidang politik di Indonesia. Liberalisasi politik Indonesia dalam pandangan Haedar pada proses selanjutnya melahirkan korupsi kewenangan dan kekuasaan. Dia menyebut contohnya seperti peraturan yang ditolak banyak pihak, namun tetapi disahkan oleh pemangku kebijakan.

"Atau undang-undang yang ditentang oleh berbagai pihak dan kemudian disahkan menjadi sebuah undang-undang, kita atau hanya mayoritas DPR yang menghendaki itu?. Kita bertanya apakah itu tidak sejalan atau mungkin bertentangan dengan sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," ungkap Haedar.

Melalui berbagai pengungkapan dalam bentuk pertanyaan tersebut, Haedar berharap itu sebagai bahan refleksi untuk tokoh dan elit bangsa, termasuk warga bangsa. Sebab nasionalisme tidak cukup hanya didengungkan, tapi jauh dari praktik dan tidak direkonstruksi pada nilai-nilai yang dilaksanakan untuk mengatur negara ini.(muhammadiyah/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Satgas P3GN Polri Tangkap 38.194 Tersangka Kasus Narkoba, Pengungkapan Periode Mei-Juli 2024 Disebut

Tok..! Penetapan Tersangka Pegi Setiawan Kasus Vina Batal Demi Hukum

Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari Akhirnya Dipecat

PKS Resmi Usung Anies Baswedan-Sohibul Iman Sebagai Cagub-Cawagub Jakarta

 

ads2

  Berita Terkini
 
PBNU Sesalkan 5 Tokoh Nahdliyin Temui Presiden Israel: Lukai Perasaan Muslim

Satgas P3GN Polri Tangkap 38.194 Tersangka Kasus Narkoba, Pengungkapan Periode Mei-Juli 2024 Disebut

Kalender Hijriah Global Tunggal: Lompatan Ijtihad Muhammadiyah

Tok..! Penetapan Tersangka Pegi Setiawan Kasus Vina Batal Demi Hukum

Advokat Rakyat, Agussalim SH: Taman Nasional TNKT Togean 'Eco Fasis', Hak Agraria Ulayat Milik Rakyat !

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2