Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Sri Lanka
60 Tahun Hubungan Indonesia-Sri Lanka: Bersahabat Dalam Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya
Monday 29 Apr 2013 09:29:10
 

Seminar budaya dan pertunjukan seni di Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Minggu (28/4).(Foto: Ist)
 
BANDUNG, Berita HUKUM - Peringatan 60 tahun Hubungan Diplomatik RI-Sri Lanka telah diselenggarakan di Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Minggu (28/4). Rangkaian acara yang terdiri dari seminar budaya dan pertunjukan seni tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Duta Besar A.M. Fachir.

Dalam sambutannya, Duta Besar Fachir menyampaikan bahwa Indonesia dan Sri Lanka telah menjalin hubungan bersahabat antar-bangsa jauh sebelum Republik berdiri.

"Kedua bangsa berbagi tempat dalam sejarah dunia pada abad ke 5 hingga abad ke-12 ketika ajaran Hindu, Buddha, Kristen dan Islam menyebar di Asia, hingga pada zaman penjajahan kolonial di abad ke-18 hingga ke-19," ujarnya.

Pada perkembangannya, Indonesia dan Sri Lanka menjalin kerjasama erat forum internasional dan berbagai inisiatif penting. Pelaku usaha kedua negara juga menjalin hubungan yang intensif.

"Semua ini merupakan modalitas penting untuk mendorong kerja sama yang lebih produktif di kawasan dan menghadapi tantangan global. Semangat persahabatan dan kerja sama diharapkan terus terpelihara dengan langgeng di antara masyarakat kedua negara," ucap Dubes Fachir.

Dalam sesi seminar budaya, peserta mempelajari dengan lebih mendalam berbagai fakta mengenai hubungan sosial-budaya di antara Indonesia dan Sri Lanka. Narasumber dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Universitas Indonesia, Walubi (Perwakilan Umat Buddha di Indonesia), Kedubes Sri Lanka di Jakarta, serta Presiden Asosiasi Sri Lanka di Indonesia (ASLI) mengungkapkan betapa Indonesia dan Sri Lanka bersinggungan dalam beberapa titik sejarah penting dunia, utamanya pada masa kolonial dan perang dingin.

Menarik untuk diketahui bahwa kelompok etnis Melayu Sri Lanka memiliki nenek moyang yang merupakan tokoh-tokoh pejuang dari suku-suku di pulau Madura, Jawa dan Sulawesi yang dibuang ke Ceylon pada saat pemerintahan kolonial Belanda pada abad 18 - 19.

Salah satu tokoh pejuang Melayu untuk kerajaan Kandy, Ceylon, adalah Karaeng Sangunglo, yang juga merupakan bangsawan Bugis. Seminar dilanjutkan dengan pertunjukan wayang golek-ruukada (bahasa Sinhala untuk “puppetry”) sebagai acara puncak.

Dalam pengantarnya, Direktur Asia Selatan dan Tengah, Ibu Listyowati, menyampaikan "kesamaan budaya antara Indonesia dan Sri Lanka dapat menjadi modal penting bagi peningkatan hubungan antarmasyarakat kedua negara, dan dalam pembangunan hubungan bilateral Indonesia-Sri Lanka yang saling menguntungkan di berbagai bidang".

Selanjutnya, Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia, Nanda Mallawaarachchi menyampaikan sambutan singkat mengenai bukti-bukti kedekatan hubungan kedua negara yang berakar dari kesamaan budaya yang telah berlangsung sejak berabad-abad yang lampau.

Pertunjukan wayang golek-ruukada dilakukan oleh tim gabungan seniman Giriharja-Indonesia pimpinan Dalang Bhatara Sena dan tim Power Play (Pvt) Ltd-Sri Lanka pimpinan Ms. Sulochana Dissayanake.

Kolaborasi seniman dalam pertunjukan ini merupakan model kerja sama kreatif dan produktif yang menggabungkan talenta seni pertunjukan kedua bangsa, mulai dari dalang, puppeteer, musisi, fotografer sampai dengan sinematografer Indonesia dan Sri Lanka.

Lead performers, Dalang Bhatara Sena dan Ms. Dissayanake, membawakan lakon kontemporer dengan judul “The Defeat of Evil by Mahadanamuththa and Semar”.

Pertunjukan tersebut terasa segar dan menghibur, sekaligus sarat dengan pesan-pesan harmoni sosial dan kerjasama kedua bangsa dalam menghadapi masalah dan tantangan jaman.

Kedua master puppeteers tersebut berhasil menunjukkan bahwa seni bersifat universal, dapat diapresiasi siapa pun dan dapat mempererat persahabatan. Kemampuan artistik mereka mampu penghidupkan pertunjukan melalui tokoh-tokoh wayang golek Indonesia dan boneka Sri Lanka, dengan bahasa tutur Indonesia, Inggris, Sinhala dan Tamil.

Acara ditutup dengan ramah-tamah di antara sekitar 400 orang undangan, yang terdiri dari masyarakat Indonesia dan Sri Lanka, bersama dengan para narasumber, perwakilan berbagai instansi pemerintah, perwakilan KedutaanBesar negara-negara Asia Selatan dan Tengah di Jakarta, seniman, penonton dan media.(kml/bhc/opn)



 

 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads

  Berita Utama
Said Didu: Butuh Semangat Kepahlawanan Menjadi Saksi Sidang PHPU di MK

Komisi IV Pertanyakan Informasi Impor Minyak Kayu Putih

Paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Bisa Didiskualifikasi, Eks Penasehat KPK Sebut Alasannya

Utang Luar Negeri RI Bertambah Lagi Jadi Rp 5.528 T

 

  Berita Terkini
 
Muhammad Mursi Meninggal, Presiden Erdogan: Pemerintah Mesir Harus Diadili di Mahkamah Internasional

Tiga Calon Sekjen KPK Akan Jalani Wawancara

Bareskrim Polri Musnahkan Barang Bukti 137 Kg Sabu-Sabu

Mulai Menyadap WhatsApp

Rahmawati Husein, Wakili Asia Tenggara dalam Sidang Dewan Pengarah PBB

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2