Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
WALHI
Walhi Minta Presiden Evaluasi Kinerja Kementerian Lingkungan Hidup
Tuesday 16 Apr 2013 10:43:11
 

Direktur eksekutif Walhi, Abetnego Tarigan.(Foto: Ist)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Walhi menilai, kondisi lingkungan hidup di negeri ini makin kritis. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang seharusnya memainkan peran penting dalam pelestarian lingkungan hidup di negeri ini seakan mati suri, dan tak bergigi. Walhi pun meminta Presiden SBY mengevaluasi kinerja kementerian ini.

“Kami frustasi dengan keberadaan KLH. Harusnya ada UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang memberi kewenangan luas, tapi KLH tidak agresif menggunakan itu. Justru sibuk dengan hal-hal lain yang tak kita ngertiin,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, Senin (15/4) di Jakarta.

KLH yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam penegakan hukum lingkungan hidup terbukti mandul. Kementerian ini, katanya, tak menunjukkan peran signifikan dalam perlindungan hak-hak warga negara atas lingkungan hidup. Untuk itu, Abetnego meminta Presiden SBY melihat kembali kinerja kementerian ini. “Kalau nggak akan terus berlanjut situasi ini. Kita harus lihat, bagaimana konflik lingkungan, yang sebenarnya bisa dicari jalan keluar, tapi dibiarkan hingga berimplikasi menjadi konflik sosial, dan konflik politik,” tambahnya.

Di tengah keberadaan KLH yang jauh dari harapan, menurut Abetnego, penting Presiden langsung turun mengambil kepemimpinan merespon krisis lingkungan ini.

Pemerintah Absen

Dalam laporan tinjauan dan analisa Walhi terhadap kondisi lingkungan hidup Indonesia, sampai triwulan I 2013 memperlihatkan, negara makin absen dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup.

Kondisi menjadi lebih buruk, kata Abetnego, kala aparat negara justru terlibat dalam menghambat pemenuhan hak-hak warga negara atas lingkungan hidup. Bahkan, makin melanggengkan praktik-praktik buruk oleh korporasi perusak lingkungan dan perampas hak warga negara atas SDA dan lingkungan hidup.

Melihat situasi krisis multidimensi ini, tak ada jalan lain, perlu kepemimpinan kuat untuk membawa Indonesia ke arah demokratisasi dan upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup. “Presiden SBY harus mengambil tindakan tegas dan berani dalam masa akhir kepemimpinan. Ini jika tidak ingin meninggalkan warisan konflik sosial dan kehancuran kekayaan alam dan lingkungan hidup serta kemunduran demokrasi di Indonesia,” kata Abetnego.

Abdul Wahid Situmorang, peneliti Walhi Institute mengatakan, angka protes meningkat dan tanpa upaya penyelesaian konflik serius oleh negara. Kondisi ini, menunjukkan demokrasi masih terus diperjuangkan berada dalam kerentanan bahaya.

Dalam kajian ini Walhi, menggunakan protes lingkungan hidup menjadi salah satu prameter. Mengapa? Karena protes yang tinggi menunjukkan beberapa hal. Pertama, menunjukkan mampu atau tidaknya satu negara menjamin dan memenuhi lingkungan yang baik dan berkeadilan. Kedua, menunjukkan kualitas demokrasi. Ketiga, menunjukkan kapasitas lembaga negara dalam penuhi kewajiban. Terakhir, menunjukkan kualitas kepemimpinan bangsa ini.

Sampai Maret 2013, terpantau ada 123 protes, tertinggi di Jakarta (38), disusul Jawa Barat (9), Nusa Tenggara Timur (7), Sumatera Selatan, Aceh, Lampung dan Banten, masing-masing lima kali protes. “Di Jakarta, protes tertinggi bukan berarti paling banyak kasus. Namun, Jakarta, sebagai ibukota dan menjadi sasaran protes.” Begitu juga di Kalimantan, protes tak terpantau tinggi bukan karena tak ada masalah, kemungkinan karena akses ke pemberitaan masih minim. Sumber analisa Walhi ini, menggunakan data dari pemberitaan di media dan advokasi Walhi.(mgb/bhc/rby)



 
   Berita Terkait > Walhi
 
  Pengadilan Negeri Medan tidak mempertimbangkan hubungan antara objek sengketa Kementerian LH dan dampak kerusakan dalam Gugatan Intervensi WALHI
  Release WALHI Sulawesi Tengah atas Upaya Kasasi di Mahkamah Agung
  Tanpa Mengoreksi Kebijakan Pembangunan, Pemerataan hanya Jargon
  Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI 2015: Menagih Janji, Menuntut Perubahan
  Aktivis Bentangkan Spanduk Raksasa di Kantor Pusat BHP Billiton Meminta Batalkan Tambang Batubara
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?

Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2