JAKARTA, Berita HUKUM - Nono Sampono anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menyayangkan sikap pemerintah Filipina yang menutup akses bagi TNI sehubungan dengan rencana TNI untuk dapat terlibat dalam operasi pembebasan 10 warga negara Indonesia, yang kini disandera kelompok Abu Sayyaf di negara Filipina.
Terkait hal tersebut, Nono Sampono menyayangkan tidak adanya keterbukaan dan kerjasama dari pemerintah Filipina kepada pemerintah Indonesia. "Saya sesalkan ketidakterbukaan pemerintah Filipina, padahal kita sama-sama sedang dalam situasi yang sama, yaitu mempertahankan martabat dan kedaulatan negara masing-masing," ujarnya.
"Mengapa saat ini Filipina menolak? Padahal di masa lalu pernah melakukan kerjasama dengan militer Filipina," ujar anggota Komite I DPD RI, Nono Sampono di Jakarta, Minggu (16/4).
Mantan Komandan Korps Marinir TNI AL ini menerangkan, padahal pas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN tahun 1987 diselenggarakan di Filipina, militer Indonesia pernah terlibat dalam pengamanan. "Bukannya semata untuk presiden dan delegasi Indonesia. tapi, TNI juga ikut dalam pengamanan beberapa kepala negara peserta KTT ASEAN tersebut," ungkapnya.
"Saya teringat saat itu Kolonel Hosanan pimpinan makar tertangkap, tapi kemudian dapat meloloskan diri. Sedangkan tim TNI (kebetulan dipimpin saya sendiri) bertugas dalam pengamanan Sultan Hasanah Bolkiah dari Brunei Darussalam," ungkapnya lagi.
Sebagai negara tetangga yang baik, Filipina semestinya membuka ruang kerjasama bagi militer Indonesia ikut andil dalam pembebasan WNI. Hal ini dalam rangka sama-sama dalam mempertahankan kedaulatan dan martabat masing-masing negara.
Perlu diketahui bahwa, Pasukan Anti Teror TNI sebenarnya sudah siap untuk membantu Filipina. Keberhasilan TNI sudah terukur pada Ops Woyla 1981 oleh Kopassus TNI AD dan Somalia 2014 oleh Den Jaka Marinir," jelas Nono, yang pernah menjadi komandan Paspampres di masa pemerintah Gus Dur dan Megawati.
Sesuai pemberitaan dari media bahwa, telah terjadi penyerbuan ke markas kelompok Abu Sayyaf, sehingga telah menelan korban baik di pihak militer Filipina maupun kelompok Abu Sayyaf.
Secara psychologis, bila Indonesia dilibatkan maka pemberontakan Moro mungkin akan bertindak agak lunak terhadap para sandera. "Kita mendoakan agar 10 orang WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf tetap selamat," pungkasnya.(bh/mnd) |