Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Pilpres 2014
Rapat Pleno KPU Ditutup dengan Puisi Taufik Ismail yang Menggelegar
Monday 14 Jan 2013 16:20:21
 

Taufik Ismail saat membacakan puisinya di Gedung KPU, Senin (14/1).(Foto: BeritaHUKUM.com/put)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Sastrawan terkenal Indonesia Taufik Ismail menutup Rapat Pleno terbuka KPU dengan membaca puisi karyanya yang ditulis 9 tahun, Senin (14/1).

Saya tulis puisi ini, usia saya sekarang 77 tahun, tidak banyak diruang ini yang lebih dari saya ini, apa yang saya rasakan saat pemilu pertama itu saya bacakan puisi pada tahun 55 merupakan pengalaman saya dalam Pemilu.

Kepada semua pengurus parpol dan tokoh Politik di ruangan ini, "apapun nomor yang didapat jangan sampai takhayul," ujar Taufik Ismail.

Puisi yang dibacakan Taufik Ismail kurang lebihnya yaitu taufik berkata, itulah pemilu yang paling indah tercatat dalam bangsa Indonesia pada waktu tidak ada huru-hara yang menegangkan dan pada waktu itu tidak ada satu-satunya yang melayang, pada waktu tidak ada satu mobil yang dibakar, pada waktu itu tidak satu bangunan yang dibakar, pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, dan pada waktu itu tidak ada sogok-sogokan, pemilu pertama Indonesia 55 tahun lalu.

Pada penghitungan suara tidak ada kecurangan, itulah massa ketika Indonesia dihormati dunia, sebagai bangsa yang terkenal santun dan sopan, dan kita jauh dari keberingasan jauh kita dari keganasan, teriak Taufik dengan lantangnya.

Namun 16 tahun kemudian untuk sejumlah kursi yang ukuran hanya 509 cm, rakyat dihasut, bendera partai di kibar-kibarkan, rasa persaingan dikobar-kobarkan, lihat pada saat kampanye tinju di kepal-kepalkan dan tidak gagah wahai bangsa ku', wahai bangsa ku anak bangsa tewas ratusan yang mati terhadap pemilihan umum, mobil dan bangunan dibakar berpuluh-puluhan.

Anak bangsa mudah-mudahan bila satu bertemu di jalan mereka sopan-sopan, namun bila berjumlah ratusan dan ratusan mereka pawai dengan semua meneriakkan tanda seru dalam semboyan dan berubah mereka menjadi beringas mereka beringasn sudah siap untuk mengamuk, melakukan kekerasan batu-batu berterbangan, pentungan berserakan terjadilah huru-hara pesanan.

Antara rasa rindu dan malu puisi ini aku tuliskan rindu aku pada pemilu yang pernah aku rasakan, malu-malu aku pada diriku sendiri karna tidak mampu merubah perilaku bangsaku.(bhc/put)



 
   Berita Terkait > Pilpres 2014
 
  Jelang Pilpres, Bang Yos 'Nyekar' ke Asta Tinggi
  Bupati Gorontalo Minta Dahlan Gandeng Bupati Kutai Timur Kepilpres
  Pilpres 2014, Jika Tanpa Jokowi Bukan Pemilu
  Politisi Narsis, Jalankanlah Politik Etis
  Jelang Pilpres 2014, Idham: Partai Tidak Mau Kalah Start
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2