Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Rohingya
Perlu Solusi Konkret, Legislator Minta Pemerintah Perkuat Tekanan Diplomatik Ke Myanmar
2017-09-04 20:53:43
 

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra.(Foto: Jaka/jk)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Tragedi kemanusiaan yang dialami etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar membuat prihatin dunia. Di mana ratusan ribu etnis arakan muslim di sana mendapat intimidasi berdarah oleh tentara Myanmar. Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH) menilai solidaritas kemanusiaan perlu segera dilakukan di sana.

"Solidaritas kita sebagai negara yang menjunjung hak asasi manusia harus dimunculkan di sini, Indonesia harus memainkan peran untuk mengatasi krisis kemanusiaan tersebut," kata Sutan, dalam rilisnya kepada Parlementaria, Senin (4/9).

Politisi F-Gerindra itu menyarankan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah terkait dengan akses menuju Rohingya yang ditutup oleh pemerintah Myanmar. Ia mengharapkan peran pemerintah Indonesia perlu untuk lebih ditegaskan, agar bantuan dari UNHCR maupun donor lainnya bisa masuk menyelamatkan muslim rohingya dari pembantaian termasuk menyalurkan bantuan makanan, obat - obatan dan tenaga medis.

"Kita berharap pemerintah melalui jalur diplomatik bisa melakukan tekanan kepada Pemerintah Myanmar untuk bisa membuka akses bantuan kemanusiaan," harapnya.

Bahkan dalam mencegah pembantaian etnis muslim di sana, Sutan menilai pemerintah perlu meminta Dewan Keamanan (DK) PBB untuk bersidang agar ada pasukan perdamaian di sana, minimal ada pengawas PBB di sana agar tidak terjadi pembantaian etnis

Sutan pun mengaku, fraksinya telah menyisihkan sebagian besar gaji mereka bulan September ini untuk disumbangkan kepada pengungsi Rohingya. Mengingat masalah Rohingya ini masalah kemanusiaan, sehingga sebagai sesama muslim dan bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan, harus empati yang dikedepankan.

"Harus ada empati yang kita kedepankan, karena di sinilah ujian kita sebagai seorang Pancasila, menjunjung tinggi rasa peri kemanusiaan. Saya Pancasila, saya membantu kaum muslim Rohingya," tegas politisi asal dapil Jambi itu.

Sementara, konflik yang melanda etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, telah menjadi sorotan dunia. Tak terkecuali Indonesia, yang termasuk negara di Kawasan Asean. Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mendorong Indonesia harus hadir memberikan solusi konkret terhadap krisis kemanusiaan ini.

"Harus ada solusi terbaik, tanpa mengintervensi politik dalam negeri Myanmar, lebih kepada aspek kemanusiaan dan jangan sampai genosida menghilangkan suatu kaum. Barangkali boleh diusulkan penyelesaian seperti MoU dengan Aceh dengan perjanjian Helsinki," kata Taufik di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (4/9).

Taufik menambahkan, mayoritas fraksi di DPR menyoroti banyaknya korban dalam krisis kemanusiaan ini. Hal itu pun terlihat pada Rapat Paripurna DPR yang digelar pekan lalu, Kamis (31/8/2017). Pasalnya, kasus yang terjadi di Myanmar adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Sehingga harus disikapi secara serius. Untuk mencari solusi konkret tersebut, DPR akan menindaklanjuti dalam rapat pimpinan, dan menyusun sejumlah rekomendasi.

"Kita akan lakukan rapim ditindaklanjuti kemudian kami akan konsultasi rapat pimpinan fraksi sebagai rekomendasi politik resmi dari DPR," imbuh Politisi F-PAN itu.

Taufik memastikan, salah satu rekomendasi DPR adalah permintaan agar penghargaan nobel perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi agar dicabut. Suu Kyi dianggap gagal menjaga misi perdamaian dengan pembiaran yang terjadi di Rakhine.

Politisi asal dapil Jawa Tengah itu mengatakan, rekomendasi resmi DPR RI itu akan diteruskan ke World Parliamentary Forum yang digelar di Bali pada Rabu ini. Forum ini diikuti oleh 47 negara termasuk Myanmar.

"Forum itu diikuti 47 negara, termasuk Myanmar juga hadir. Karena ini sudah serius dan sudah mengarah ke genosida, di situ DPR akan gunakan diplomasi parlemen untuk bawa rekomendasi DPR yang tadi," komitmen Taufik.(sf,mp/DPR/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Rohingya
 
  Rohingya: 'Lebih Baik Bunuh Kami, Daripada Deportasi Kami ke Myanmar', Permintaan Pengungsi yang Terkatung-katung Hidupnya
  Myanmar: Cerita Para Pengungsi Rohingya yang Terjebak di Pulau Terpencil - 'Kamp Ini Seperti Penjara Besar'
  Aung San Suu Kyi: Dulu Simbol Demokrasi, Kini Dituding Persekusi Muslim Rohingya
  Muslim Rohingya Tuntut Keadilan di Mahkamah Internasional: 'Myanmar Harus Bertanggung Jawab Terjadinya Genosida'
  Krisis Rohingya: Demonstrasi Tandai Peringatan 2 Tahun di Pengungsian
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

Rakyat berhak jadi hakim kinerja Menteri Prabowo, Emrus: Jangan hindari kabinet bayangan

KAI Luncurkan Nusantara Explorer, Kereta Mewah yang Siap Ubah Wajah Pariwisata Indonesia

Purbaya curhat: Saya menteri paling tidak beruntung di dunia

KPK Petakan 3 Titik Rawan Korupsi APBD, Mitigasi Potensi Kebocoran Daerah Capai Rp2,37 Triliun

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2