Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Gerhana
Pada 28 Juli 2018 akan Terjadi Gerhana Bulan, Berikut Penjelasan Tata Cara Shalatnya
2018-07-26 06:40:08
 

Ilustrasi. Gerhana Bulan.(Foto: BH /sya)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengumumkan bahwa pada Sabtu, 15 Zulqa'dah 1439 H bertepatan dengan 28 Juli 2018 M, seluruh wilayah di Indonesia akan mengalami gerhana bulan total.

Sehubungan dengan itu Majelis Tarjih mengimbau kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah untuk melaksanakan ibadah shalat gerhana bulan (shalat khusuf) serta melakukan pengamatan gerhana bulan menggunakan alat yang dimiliki.

Sementara berdasarkan kutipan dari Keputusan Mu'tamar Tarjih XX di Garut 1396 H / 1976 M dan ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan surat No. C/1-0175/77, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan untuk melaksanakan shalat kusufain :

1. Apabila terjadi gerhana matahari atau bulan, hendaknya imam menyuruh orang menyerukan: "Ash-Shalatu Jami'ah". Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist : "Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw, maka beliau menyuruh orang menyerukan Ash-Shalatu Jami'ah, lalu beliau maju mengerjakan shalat empat kali ruku' dalam dua raka'at dan empat kali sujud." [HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad, lafadz al-Bukhari dari Aisyah ra.]

2. Kemudian, ia pimpin orang banyak mengerjakan shalat dua rakaat, pada tiap rakaat berdiri dua kali, ruku' dua kali, dan sujud dua kali, serta pada tiap rakaat membaca Fatihah dan surat yang panjang dengan suara nyaring, dan pada tiap ruku' dan sujud membaca tasbih lama-lama. Berdasarkan dalil yang artinya :"Pada shalat gerhana Nabi saw menyaringkan bacaannya. Dan dikerjakannya empat kali ruku' dalam dua raka'at serta empat kali sujud." [HR. al-Bukhari dan Muslim, lafadz Muslim dari Aisyah ra.]

Selain itu, juga dijelaskan dalam hadist lainnya, yang artinya: "Pada masa Rasulullah saw pernah terjadi gerhana matahari, kemudian Rasulullah saw mendatangi tempat shalat lalu bertakbir dan orang banyakpun ikut bertakbir, lalu membaca bacaan dengan suara nyaring, dan beliau berdiri lama ......... dan seterusnya hadits." [HR. Ahmad dari Aisyah ra.]

3. Setelah selesai shalat ketika orang-orang masih tetap duduk, imam berdiri menyampaikan peringatan dan mengingatkan mereka akan tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist yang artinya : "Pada masa hidup Rasulullah saw pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau keluar ke masjid, kemudian beliau bertakbir sedangkan orang banyak ikut bershaf-shaf di belakangnya. Lalu beliau membaca bacaan panjang-panjang kemudian bertakbir untuk ruku' lama sekali, kemudian mengangkat kepalanya lalu mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu', kemudian beliau berdiri lalu membaca bacaan panjang-panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian bertakbir untuk ruku' lama sekali tetapi lebih sebentar dari yang pertama, lalu mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu', kemudian sujud. Kemudian pada rakaat kedua beliau kerjakan seperti itu, sehingga seluruhnya merupakan empat kali ruku' dan empat kali sujud. Dan matahari lalu nampak terang sebelum shalat selesai. Kemudian beliau bangkit berkhutbah dengan menyampaikan puji kepada Allah sebagaimana mestinya dan beliau mengatakan: Matahari dan bulan keduanya adalah tanda kebesaran Allah Yang Maha Mulia, gerhananya bukan disebabkan mati dan lahirnya seseorang. Dan jika kamu menyaksikan hal itu maka segeralah shalat." [HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah ra.]

Serta menganjurkan mereka agar banyak membaca istighfar, shadaqah dan segala amalan yang baik. Berdasarkan hadist berikut yang artinya : "Pernah terjadi gerhana matahari, maka bangkitlah Nabi saw shalat, dan bersabda: Apabila kamu saksikan hal yang serupa itu, maka segeralah kamu kerjakan shalat dan panjatkan doa dan mohon pengampunan-Nya." [HR. al- Bukhari, Muslim, Ahmad dari Abu Musa].

Selain itu, dalam suatu riwayat al-Bukhari dari Aisyah dengan lafadz sebagai berikut : "Maka Apabila kamu saksikan hal itu, maka panjatkanlah doa kepada Allah dan bacalah Takbir dan kerjakan shalat dan bershadaqahlah."

Sementara, berikut ini hal-hal yang perlu kamu ketahui terkait gerhana bulan total terlama abad ini.

1. Proses terjadinya gerhana bulan total

Gerhana bulan total terjadi dalam tujuh fase seperti ini:

- Gerhana mulai (P1) pada pukul 00.13 WIB

- Gerhana sebagian mulai (U1) pada pukul 01.24 WIB

- Gerhana total mulai (U2) pada pukul 02.30 WIB

- Puncak gerhana pada pukul 03.22 WIB

- Gerhana total berakhir (U3) pada pukul 04.13 WIB

- Gerhana sebagian berakhir (U4) pada pukul 05.19 WIB

- Gerhana berakhir (P4) pada pukul 06.30 WIB


2. Fase totalitas gerhana bulan total terlama di abad ini

Fase total dari gerhana bulan total pada 28 Juli mendatang mencapai 103 menit. Ini adalah yang terlama hingga lebih dari 100 tahun ke depan. Peristiwa gerhana bulan total terlama bakal terjadi lagi pada 9 Juni 2123, yang mencapai 106 menit. Namun gerhana ini tidak bisa diamati di Indonesia.

Selanjutnya gerhana bulan total terlama juga dapat disaksikan pada 19 Juni 2141, yang mencapai 106 menit.

3. Penyebab lamanya durasi gerhana bulan total pada 28 Juli

Lamanya durasi gerhana bulan total yang bakal terjadi pada Sabtu mendatang disebabkan tiga hal. Pertama, saat puncak gerhana terjadi, posisi pusat piringan bulan dekat dengan pusat umbra bumi.

Kedua, gerhana bulan total terjadi saat bulan di sekitar titik terjauh dari bumi yang disebut titik 'apoge'. Berdasarkan perhitungan, bulan mencapai titik apoge pada 27 Juli 2018 pukul 12.44 WIB sejauh 406.223 km. Empat belas jam kemudian, tepatnya ketika puncak gerhana terjadi, jarak bumi dengan bulan menjadi lebih dekat 270 km daripada saat di apoge tersebut.

Penyebab yang terakhir, pada Juli, bumi sedang berada di sekitar titik terjauh dari matahari (aphelion), yaitu yang terjadi pada 6 Juli 2018 pada pukul 23.47 WIB dengan jarak 152 juta km. Pada saat puncak gerhana terjadi, jarak bumi-matahari lebih dekat 184 ribu kilometer daripada saataphelion. Hal inilah yang membuat durasi gerhana bulan total lebih lama.

4. Lokasi visibilitas gerhana bulan total

Seluruh wilayah Indonesia dapat mengamati peristiwa alam ini. Begitu pula di negara lain. Keseluruhan proses gerhana dapat diamati di Samudra Hindia, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Barat, dan sebagian besar Afrika bagian timur.

Bagian utara Amerika dan sebagian besar Samudra Pasifik tidak akan dapat mengamati keseluruhan proses gerhana ini.

Sedangkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, Puncak Gerhana Bulan Total akan terjadi selama 103 menit dan dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia pada tgl 28 juli 2018.

BMKG akan melaksanakan pengamatan di berbagai titik di Indonesia dan menyiarkannya secara live.

"Terlama Abad ini! Puncak Gerhana Bulan Total akan terjadi selama 103 menit dan dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia pada tgl 28 juli 2018. BMKG akan melaksanakan pengamatan di berbagai titik di Indonesia dan menyiarkannya secara live. #bmkg #gerhanabulantotal #bloodmoon," tulis akun media sosial twitter @infoBMKG

(dbs/MajelisTarjihPPMuhammadiyah/detik/bh/sya)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2