Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Legislatif    

Marzuki: Alat Absensi Rp 4 Miliar, Bikin Jantung Copot
Friday 25 Nov 2011 22:12:35
 

Marzuki Alie (Foto: Ist)
 
JAKARTA (BeritaHUKUM.com) – Rencana Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR dalam pengadaan alat absen fingerprint (sidik jari), bakal terganjal. Pasalnya, Ketua DPR sekaligus Ketua BURT Marzuki Alie meminta untuk mengevaluasi proyek tersebut, karena nilainya tidak lumrah. Pasalnya , tidak mungkin alat itu mencapai Rp 4 miliar.

Menurut dia, permintaan evaluasi bukan untuk tujuan bisnis, melainkan untuk mencegah timbulnya persepsi negatif di kalangan masyarakat. "Jantung saya seperti mau copot, begitu mendengar biayanya Rp 4 miliar. Kalau beli mahal, terus bagaimana nantinya. Saya minta tolong pada ahlinya untuk berkoordinasi dengan Sekjen," terangnya.

Diungkapkan Marzuki, dirinya punya kenalan, karena dia tahu untuk keperluan 16 unit, paling hanya menelan biaya Rp 80 juta. Sedangakn ditambang dnegan biaya pemasangan dan segala macamnya, maksimal hanya menelan biaya sekitar Rp 400 juta. “JIka mencapai Rp 4 miliar, saya bilang tidak masuk akal,” papar dia.

Pemanggilan ahli ini, lanjut dia, karena dirinya berharap tidak terjadi permainan oleh pihk Kesekjenan terhadap pembelian alat tersebut. Jika penyimpangan terjadi, maka akan menjadi tanggung jawab Sekjen DPR. “Kalau ada permainan-permainan itu adalah tanggung jawab Sekjen. Saya tidak ikut campur,” tegas Marzuki.

Harga sebesar itu, jelas dia, sangatlah tidak mungkin. Sebab, diirnya telah membandingkan dengan alat fingerprint yang ada di sekolah yang dimilikinya. Absensi jempol yang ada di sekolah miliknya seharga Rp 1 juta per unit. Untuk kualitas yang lebih baik harganya Rp 5 juta per unit. Atas dasar ini, dirinya meminta Sekjen DPR tidak membeli alat yang terlampau mahal hingga menghabiskan dana Rp 4 miliar.

“Saya yang akan mengawasi pengadaan alat absensi tersebut, agar tidak terjadi penyelewengan anggaran. Jika proyek tersebut berhasil digunakan di DPR, nantinya setiap ruang rapat komisi juga akan menggunakan fingerprint tersebut,” tandasnya.(mic/rob)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy Suryo menang di Praperadilan, PN Jaksel nyatakan penangkapan hingga penahanan kasus ijazah Jokowi tidak sah

Defisit APBN 2025 jebol, DPR ramai-ramai kritik pemerintah

Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2