Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
EkBis    
BUMN
Kinerja BUMN Menurun, Pemerintah Sebaiknya Tak Tuntut Dividen
Tuesday 05 Nov 2013 16:35:34
 

Ilustrasi, BUMN.(Foto: bumn.go.id)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Pemerintah diharapkan tidak menuntut setoran dividen terlalu besar kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Soalnya, sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, kinerja keuangan sejumlah perusahaan pelat merah tengah merosot.

“Kementerian BUMN juga jangan terlalu meminta deviden lebih, keduanya harus saling bersinergi,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada saat dihubungi wartawan, Jakarta, Minggu (3/11) lalu.

Turunnya laba beberapa BUMN otomatis mempengaruhi pergerakan saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tercatat laba bersih PT Bukit Asam Tbk (PTBA) hingga September 2013 turun 43,7 persen menjadi Rp1,24 triliun. Disusul penurunan laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar turun 44,56 persen menjadi Rp347,99 miliar lebih rendah dari periode yang sama ditahun sebelumnya sebesar Rp627,78 miliar.

Sementara PT Timah Tbk (TINS) pun tercatat mengalami penurunan laba bersih sebesar 62 persen menjadi Rp141 miliar dari Rp369,9 miliar diperiode yang sama tahun lalu.

Selain BUMN pertambangan tersebut, PT Jasa Marga (Persero) juga mengalami penurunan laba bersih sebesar 15,1 persen menjadi Rp1,02 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,21 triliun.

“Seharusnya setiap ada proyek pengembangan jalan tol harusnya jadi sentimen positif, apalagi baru-baru ini Jasa Marga menaikan tarif tolnya, seharusnya labanya naik,” ujarnya, seperti yang dikutip dari merdeka.com.

Kemudian, BUMN penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengalami penurunan sebesar USD22,04 juta pada kuartal III-2013 dari laba bersih USD56,4 juta pada periode yang sama tahun 2012. Kendati demikian, Reza memperkirakan pergerakan saham Garuda cenderung sideways di 4.800-5.100.

“Kerugian itu cukup besar, kemungkinan kerugian berasal dari penambahan biaya operasional perseroan. Jika pelaku pasar ingin masuk ke saham Garuda, perhatikan saja volume belinya,” ungkap Reza.(yud/nov/mdk/bhc/sya)



 
   Berita Terkait > BUMN
 
  Pakar Koperasi: Justru Erick Thohir yang Lakukan Pembubaran BUMN
  Kasus Dugaan Korupsi PLN Batubara, Kejati DKI Kumpulkan Data dan Keterangan Sejumlah Pihak
  Legislator Desak Batalkan IPO PT Pertamina Geothermal Energy
  Terkait Anggaran Proposal Rp100 Miliar Acara Temu Relawan Jokowi di GBK, Ini Klarifikasi Mantan Sekjen Projo
  Komisi VI Setujui Tambahan PMN 3 BUMN
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2