SULSEL, Berita HUKUM - Terkait rumor yang menyebutkan penangkapan artis Raffi Ahmad sebagai rekayasa yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN), Kepala BNN Anang Iskandar menyatakan bahwa penangkapan tersebut dilakukan secara profesional.
"Tidak mungkin BNN telah merekayasa kasus ini, karena yang ditangkap di rumah Raffi berjumlah 17 orang, kalau direkayasa berarti yang lainnya akan buka mulut," ujar Anang saat mengunjungi kantor BNNP Sulsel, Sabtu (23/2).
Anang mempertegas pernyataannya bahwa penangkapan yang dilakukan anggotanya berlangsung secara profesional dengan berdasarkan alat bukti yang kuat serta sejumlah keterangan rekan Raffi yang juga ditangkap di rumah Raffi. Dari hasil tes urine yang dilakukan BNN, terbukti Raffi menggunakan Narkotika jenis baru, Methacathinone alias Methylone.
Sementara itu terkait sikap keberatan pihak keluarga dan pengacara Raffi, Anang menganggap hal tersebut sah-sah saja, karena pihaknya memiliki bukti kuat bahwa Raffi akan direhabilitasi atas kecanduannya pada zat Methylone.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, juga muncul tudingan kalau presenter acara 'DahSyat' itu mendapat perlakuan istimewa dari pihak BNN. Namun, tudingan itu langsung dibantah oleh Kepala Humas BNN Kombes Sumirat Dwiyanto.
"Nggak ada perlakuan khusus entah itu dari jam besuk dari keluarganya atau yang lainnya," ujarnya saat ditemui di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (6/2).
Sumirat mengungkapkan keluarga Raffi datang di luar jam besuk karena dipanggil oleh penyidik. Keluarga Raffi sudah beberapa kali dipanggil untuk memberikan keterangan.
"Kalau keluarga kan dipanggil penyidik. Pengacara juga urusan dengan penyidik. Siapa pun kaitannya dengan penyidik, entah itu keluarga atau temannya pasti akan dipanggil," jelasnya.
Sampai hari ini, Kamis (7/2), Badan Narkotika Nasional (BNN) terus melengkapi berkas kasus penyalahgunaan narkotika yang menimpa Raffi Ahmad. Rencananya, presenter acara musik layar kaca itu akan dirujuk ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur.
Kepala Humas BNN, Komisaris Besar (Pol) Sumirat Dwiyanto mengungkapkan, tersangka Raffi akan mulai menjalani pemeriksaan kesehatan di RSKO Cibubur, Kamis (7/2) ini. BNN akan mencari second opinion (pendapat kedua) tentang kondisi kesehatannya setelah ditetapkan menjadi tersangka.
"Di BNN kan juga diperiksa sama dokternya, di RSKO untuk mendapatkan second opinion tentang kesehatan yang bersangkutan," ujar Sumirat kepada Kompas.com usai menggelar pemusnahan barang bukti kasus penyelundupan sabu di BNN, Kamis (7/2) pagi.
Di BNN, lanjut Sumirat, tim dokter atau konselor Raffi hanya melakukan penanganan kesehatan secara umum dan spesifik penyalahgunaan narkotika. Sementara di RSKO, Raffi akan menjalani pemeriksaan aspek psikis dari dokter.
"Jadi RA masih menjalani pemeriksaan secara mendalam untuk mendapatkan data yang lebih mendalam untuk menentukan langkah BAP (Berita Acara Pemeriksaan) selanjutnya," lanjutnya.
Sumirat melanjutkan, pemeriksaan kesehatan di RSKO hanya berlangsung selama satu hari. Setelah selesai menjalani pemeriksaan, Raffi akan dikembalikan lagi ke penyidik BNN untuk melanjutkan proses BAP yang hampir final.
Dihubungi terpisah, kuasa hukum Raffi Ahmad, Rahmat Harahap, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, langkah BNN dalam mengirimkan kliennya ke RSKO adalah bagian dari asesmen kesehatan yang menjadi salah satu aspek dalam kelengkapan BAP.
"Ya benar, hari ini memang ada asesmen kesehatan. Sebenarnya BAP-nya sudah selesai, tinggal menunggu ini," lanjutnya.
Berdasarkan informasi dari BNN, lanjut Rahmat, hari ini BNN telah berkirim surat permohonan kelengkapan berkas (P21) ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Tahap selanjutnya tinggal mengirimkan barang bukti berikut tersangka.(dbs/bhc/opn) |