Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Qanun Aceh
Kembali TNI dan Polri Diminta Turunkan Bendera Aceh Mirip Bendera GAM
Wednesday 16 Apr 2014 01:36:10
 

Ilustrasi. Aksi konvoi pengebaran bendera Bulan Bintang, di Aceh Utara.(Foto: BH/sul)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) kembali membahas simbol daerah Istimewa Aceh, bendera yang menyerupai bendara Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hal tersebut merupakan polemik yang pada pertengahan tahun 2013 sempat menghangat dan dihentikan pembahasannya yang dinilai melanggar kesepakatan Helsinki.

"Selama mereka belum melaksanakan klarifikasi tersebut, bendera Aceh tidak boleh berkibar. Ini juga untuk menjaga ketentraman di sana,” ucap Kepala Biro Hukum Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (15/4).

Untuk diketahui, bahwa di dalam surat klarifikasi Mendagri tersebut, pemerintah pusat merasa keberatan dengan sejumlah aturan yang tertuang di dalam Qanun, di antaranya mengenai lambang dan bendera daerah Aceh.

“Inti dari pertemuan tersebut antara lain meminta Pemerintah NAD melaksanakan klarifikasi Mendagri pada 27 Desember 2013 lalu terhadap Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013,” tegas Zudan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Mendagri lalu meminta agar Pemerintah NAD segera menyesuaikan substansi Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, Mendagri juga sempat mengultimatum Pemerintah NAD agar segera mengindahkan keberatan pemerintah pusat tersebut paling lama 15 hari sejak diterimanya surat klarifikasi tersebut pada 2013 lalu.

“Namun, hingga saat ini, provinsi paling ujung di Pulau Sumatera tersebut tetap bertahan dengan Qanun tersebut,” tutur Zudan.

Zudan menegaskan bahwa pihaknya juga meminta TNI/Polri untuk menurunkan bendera tersebut kalau masih terlihat berkibar di Aceh.

“Bendera Aceh sebaiknya memiliki corak netral jangan menyerupai bendera GAM. Kalau memang enggan mengganti simbol, maka ubah warna dari lambang daerah itu,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri Djohermansyah Djohan menambahkan, pertemuan kedua belah pihak hari ini juga menandakan proses cooling down atau masa tenang dari polemik Qanun, antara pemerintah pusat dengan pemerintah NAD berakhir.

“Memang masih proses cooling down, masa tenang tersebut berakhir hari ini. Kalau memang belum ada titik temu setelah pertemuan nanti, bisa saja diperpanjang,” imbuh dia.

Djohan menegaskan pula bahwa, Pemerintah NAD harus menaati surat klarifikasi Mendagri tersebut jika masih merasa sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Saya maunya selesaikan masalah Aceh ini dengan bijak. Apa yang menjadi kewajiban Aceh dan tugas pusat, harus diatur bersama,” ujarnya.(rls/bhc/dar)



 
   Berita Terkait > Qanun Aceh
 
  RTRW Aceh Hadirkan Saksi Fakta Dalam sidang Lanjutan Gugatan Qanun
  Tgk Ni: Bendera Aceh Seharusnya Sudah Berkibar di Seluruh Aceh
  Kembali TNI dan Polri Diminta Turunkan Bendera Aceh Mirip Bendera GAM
  Masa Tenang Qanun Bendera Aceh Diperpanjang, Masyarakat Diminta Bersabar
  Qanun WN, KKR Lebih Penting, Kata K2HAU
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Bareskrim gerebek Five Star Denpasar, tangkap 53 orang, manajemen terlibat?

Utang Whoosh diambil alih Kemenkeu dan diklaim tak bebani APBN, CELIOS: Bakal sama saja

Respons pasien BPJS Yurizal yang meninggal dan viral dirundung nakes, Menkes: Saya merasa gagal

Sejumlah pemkab/pemkot di Jateng tak sanggup bayar gaji ASN, Wagub: Sudah kita laporkan ke pusat

Satelit Lampung-1 milik perusahaan China siap diluncurkan, apa manfaat dan risikonya?

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2