JAKARTA, Berita HUKUM - Korupsi itu membunuh orang banyak. Jangan kita yang nyolong sandal diinjak-injak. Koruptor juga pantas diinjak-injak,” ujar Ho berapi-api, saat mengomentari kasus korupsi di Indonesia, usai pemutaran film dokumenter “Jalanan” di Gedung KPK Jakarta, Rabu sore (30/4) lalu.
Ho adalah salah satu dari tiga aktor utama dalam film yang dibuat Daniel Ziv selama tujuh tahun. Ho, bersama Titi Juariyah dan Boni Puterra. Ketiganya merupakan pengamen jalanan yang hidup di Ibukota Jakarta.
Ho, bersama Boni, sehari-hari mengamen dengan pendapatan 50-100 ribu rupiah per hari. Ho hidup dengan nafas filosofis dalam menjalani hidup. Boni, yang lebih slengean, menyosok pada pribadi yang pandai bersyukur meski tinggal di kolong jembatan. Sedangkan Titi, menyiratkan perjuangan yang mengharamkan putus asa dalam kamus hidupnya.
“Ketiganya punya personalitas yang kuat dan menarik. Itu mengapa saya memilih mereka,” kata Daniel, pria asal Kanada yang “mengaudisi” mereka secara sembunyi-sembunyi selama dua bulan.
Salah satu pimpinan KPK, Busyro Muqoddas memuji film yang memenangkan kategori Best Documentary pada ajang bergengsi Busan International Film Festival ini. Ketiga aktornya, kata Busyro, merupakan sosok yang memilih jalan mendaki. Tak banyak memang, mereka yang memilih jalan itu, lalu konsisten dan imun dari nilai-nilai yang merusak dan menghalalkan segala cara.
“Hanya orang yang memilih jalan yang mendaki, yang bisa membebaskan budak dari perbudakan. Korupsi itu merupakan perbudakan yang sistemik,” kata Busyro.
Film yang tayang di bioskop pada 10 April lalu ini, memang tak bicara tentang korupsi secara eksplisit. Tapi kisah hidup ketiganya, sarat nilai akan kejujuran dan perjuangan, dengan latar belakang kehidupan yang keras. Kekuatan film ini, ada pada kepolosan, sehingga pesan yang tersaji, terasa sedemikian apa adanya.
Misalnya, sindiran Ho tentang keindonesiaan. “Gua cinta Indonesia. Tapi gua nggak tahu, Indonesia cinta sama gua apa enggak.”
Usai nonton bareng yang digelar bagi pegawai KPK, ketiganya berdiri di depan. Mereka mengaku bangga bisa berada di antara para pejuang pemberantasan korupsi. Bahkan Boni berpesan, “Percuma anda di sini kalau tidak bisa memberantas korupsi,” kata Boni, disambut tepuk tangan, di hadapan tiga pimpinan KPK –Abraham Samad, Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas– dan puluhan pegawai lainnya.
Di akhir acara, ketiganya menyumbangkan lagu yang dipersembahkan khusus bagi KPK yang mengemban amanah besar dalam pemberantasan korupsi.
Yuk bangun-bangun, jangan malas-malas
jangan korupsi, jangan takut
ada yang ngambil pasir
ada yang ngambil semen
ada yang ambil air, awas kepleset, kecebur.(kpk/bhc/sya)
|