ACEH, Berita HUKUM - Ikatan Wartawan Online (IWO) Aceh mengutuk kekerasan oknum pengurus/kader/simpatisan salah satu Partai lokal di Aceh yang mengancam dan menteror dua orang Jurnalis saat melakukan tugas jurnalistiknya di Kabupaten Aceh Utara.
Hal tersebut di sampaikan Ketua kordinator wilayah (Korwil) IWO Provinsi Aceh, Muhammad Abubakar terkait ancaman dan perampasan smartphone BlackBerry yang dialami Razali wartawan AJNN.Net dan Samsul Arifin Jurnalis BeritaHUKUM.com pada Rabu (5/3) kemarin sekitar pukul 09:30 WIB.
Kejadian itu terjadi saat keduanya melakukan tugas jurnalistiknya untuk melakukan kontrol sosial dalam peliputan, terkait penurunan dan perusakan terhadap ratusan bendera bintang bulan dan bendera Partai Aceh (PA), Spanduk Caleg DPRK Aceh utara dari PDA Tgk Marzuki, dan Caleg partai Gerindra Syarifuddin Yunus, serta spanduk Caleg PDI, yang dipasang di sepanjang jalan Keude Simpang Mulieng, sampai Meunasah Muncrang dan Meunasah Kanot, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.
"Ini benar-benar merupakan satu kebiadapan yang dilakukan oleh oknum-oknum baik pengurus/kader maupun simpatisan salah satu Partai Lokal. Kalau mereka takut kalah jangan bertarung, Ini merupakan ajang pesta dekmokrasi, hal ini harus benar-benar fear, Demokrasi jangan korbankan rakyat demi kekuasaan pribadi," tegas Abubakar.
Kita harapkan kepada pimpinan Partai lokal di Aceh, agar dalam pengkaderan, baik pengurus maupun kadernya harus mengajari untuk beretika politik yang benar, profesional, jangan membuat Aceh ini seperti hukum rimba, sudah cukup rakyat Aceh menderita akibat konflik yang berkepanjangan, jangan demi jabatan sesaat masyarakat awam di adu domba," sebutnya.
Seperti diberitakan sebelumnya di beberapa media, berdasarkan informasi dari masyarakat didaerah tersebut ada penurunan atribut Partai yang dilakukan oleh Caleg PNA untuk DPRK Aceh utara nomor urut 1 Dapil 3, Muntasir beserta 2 rekannya. Kejadian penurunan itu dketahui oleh Kleung Pase (34) yang merupakan simpatisan Partai Aceh.
Saat itu dirinya sedang duduk-duduk di warung kopi yang tak jauh dari lokasi pencabutan atribut Partai Aceh tersebut, dimana pelaku mencabut dan menginjak-injak bendera tersebut sambil mengatakan, "ini adalah bendera pengkhianat," kemudian langsung kabur dan belum diketahui keberadaannya. Melihat kejadian itu, Si Kleung Pasee langsung menelphone rekan-rekan KPA/PA lainnya.
Selanjutnya unsur KPA/PA yang dikomandoi oleh Nadir, membuat aksi balasan dengan merusak dan mencabut seluruh atribut PNA yang dipasang di kawasan tersebut dan langsung membakarnya di persimpangan jalan Simpang Mulieng. Aksi pembakaran itu rusuh, dan puluhan massa mengeroyok dan hendak memukul wartawan BeritaHUKUM.com atas nama Samsul Arifin, dan AJNN.net Razali sembari merebut ponsel BlackBerry dan hp nokianya, serta menarik kerah bajunya hingga robek," pungkasnya.(rls/bhc/kar)
|