YORDANIA, Berita HUKUM - Para guru di Yordania melakukan pemogokan sebagai bagian dari protes menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menyusul dicabutnya subsidi pemerintah.
Langkah para guru ini dikhawatirkan dapat memicu ketegangan di Yordania ditengah tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.
Pemogokan ini terjadi ditengah protes menentang kenaikan BBM yang diwarnai dengan pembakaran ban-ban, memecahkan kaca jendela, dan melempari polisi dengan batu.
Sekitar 2.000 demonstran berkumpul di pusat kota Amman dan banyak yang meneriakkan slogan anti Pemerintah.
Para menteri mengatakan, keputusan itu penting untuk menangani defisit anggaran sebesar 3,5 miliar dinar (US$ 5 miliar).
Unjuk rasa menyerukan reformasi pemilu yang terjadi bulan lalu, merupakan demonstrasi terbesar di Yordania.
Harga gas untuk kompor akan naik lebih dari 50%, sementara solar dan bensin meningkat masing-masing 33% dan 15%.
Antrean di stasiun pompa bensin dilaporkan di Amman, karena banyak orang yang mencoba menimbun bahan bakar sebelum kenaikan terjadi tengah malam Selasa (13/11).
Para pengunjuk rasa menentang keputusan itu dan menyerukan mundurnya Perdana Menteri Abdullah Ensour.
Sebagian demonstran lain secara terbuka mengkritik Raja Abdullah. Ini merupakan langkah yang dapat mengancam hukuman penjara.
Demonstrasi di kota lain
"Kebebasan adalah dari Tuhan, bukan dari anda, Abdullah," kata salah seorang demonstran di Amman.
Selain itu, demonstrasi juga berunjuk rasa di kota Salt, Irbid dan Maan.
Ensur mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa, kenaikan harga dapat terimbangi dengan subsidi pemerintah terhadap keluarga tidak mampu.
"Kondisi keuangan di negara ini terpengaruh oleh kerusuhan di negara Arab. Situasi ekonomi sangat genting," kata Ensour.
Yordania merupakan importir gas alam dari Mesir, namun dalam satu tahun terakhir pasokan melalui pipa yang melalui Israel diserang beberapa kali sehingga negara itu harus menggunakan pemasok yang lebih mahal.
Bulan lalu, sekitar 10.000 orang turun ke jalan-jalan di Amman atas prakarsa sayap politik Ikhwanul Muslimin, Front Aksi Islam, menuntut perwakilan politik lebih besar dan parlemen yang lebih demokratik.
Raja Abdullah menyerukan pemilu awal tanggal 23 Januari, namun pihak oposisi mengancam akan memboikot.
Sejauh ini, Yordania berhasil mencegah kerusuhan politik yang melanda sejumlah negara Arab tahun lalu, dan menyebabkan perubahan kepemimpinan di Mesir, Libia, Yaman dan Tunisia.(bbc/bhc/opn)
|