Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Palestina
Diminta AS mengakui Israel, begini sikap tegas Pakistan
2026-05-31 06:42:14
 

Presiden AS Donald Trump.(Foto: Istimewa)
 
WASHINGTON, Berita HUKUM - Pakistan tetap teguh pada pendiriannya tentang Palestina dan Gaza dan tidak akan berubah menyusul permintaan Washington agar negara di kawasan Timteng mengakui Israel sebagaimana Perjanjian Abraham. Islamabad tidak akan mengakui atau menormalisasi hubungan dengan Israel tanpa pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Demikian ditegaskan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar mengatakan pada Jumat dalam konferensi pers di kedutaan Pakistan di Washington setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio seperti dilansir Dawn.

Dalam konferensi pers itu, Dar ditanya apakah Presiden AS Donald Trump telah menghentikan seruannya agar negara-negara Muslim bergabung dengan Kesepakatan Abraham sebagai bagian dari kesepakatan dengan Iran?

Pertanyaan itu muncul lantaran Trump tidak lagi menyebutkan masalah tersebut dalam pernyataan yang dikeluarkan sebelumnya pada Jumat .

Wakil Perdana Menteri Dar tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa ia telah menegaskan kembali posisi Pakistan selama pertemuannya di PBB awal pekan ini.

"Pakistan tetap teguh pada posisinya mengenai Palestina dan Gaza," kata Dar.

Ia meminta Israel bergerak menuju pembentukan negara Palestina sebelum ada perubahan dalam sikap Pakistan terhadap Tel Aviv.

Kesepakatan Abraham adalah serangkaian perjanjian yang ditengahi di bawah pemerintahan Trump pada tahun 2020 dan mengatur normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara yang secara historis bermusuhan dengannya.

Dalam unggahan media sosial yang panjang, Trump pada Senin mencantumkan negara-negara yang terlibat dalam negosiasi telah diajak bicara selama akhir pekan lalu tentang upaya untuk mengakhiri perang dengan Iran.

"Setelah semua upaya yang dilakukan Amerika Serikat untuk mencoba menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya, untuk secara bersamaan menandatangani Perjanjian Abraham," tulisnya.

"Negara-negara yang dibahas adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (sudah menjadi Anggota!), Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain (sudah menjadi Anggota!)," tambahnya.

Negara-negara yang disebutkan oleh Trump, termasuk Pakistan, Arab Saudi, dan Qatar, secara tradisional telah menganjurkan solusi dua negara antara Palestina dan Israel sebelum bicara normalisasi.

Upaya mediasi diapresiasi

Selama konferensi persnya, Dar mengatakan Washington sangat menghargai" upaya Pakistan yang bertujuan untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Pengakuan itu disampaikan selama pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri AS.

Kedua pihak juga sepakat tentang pentingnya bekerja sama agar lebih memperkuat kemitraan yang bermakna dan mendorong keamanan serta kemakmuran bagi warga Amerika dan Pakistan.

Menteri Luar Negeri AS Rubio juga membagikan hal ini dalam sebuah unggahan X.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott, Washington mengatakan Rubio telah bertemu Dar di Washington dan membahas kerja sama bilateral serta isu-isu keamanan regional.

Ditambahkan bahwa Rubio juga menyampaikan belasungkawa atas para korban serangan teroris di Quetta pada Ahad, di mana bom bunuh diri yang menargetkan kereta ulang-alik menewaskan lebih dari 10 orang dan melukai beberapa lainnya.

"Menteri Luar Negeri dan Wakil Perdana Menteri sepakat tentang pentingnya bekerja sama untuk lebih memperkuat kemitraan yang bermakna yang mendorong keamanan dan kemakmuran bagi warga Amerika dan Pakistan," kata pernyataan itu.

Sementara itu, sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri (FO) di Islamabad juga mengatakan bahwa Rubio mengakui upaya diplomatik dan mediasi tulus Pakistan untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan dan sekitarnya”.

"Kedua pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama bilateral di semua bidang yang menjadi kepentingan bersama, termasuk perdagangan dan investasi, keamanan, dan kontra-terorisme."(msn/Republika/bh/syaa)



 
   Berita Terkait > Palestina
 
  Diminta AS mengakui Israel, begini sikap tegas Pakistan
  Terekam, Biadabnya Tentara Israel Rayakan Kehancuran RS Indonesia
  Insiden Terbunuhnya Ismail Haniyeh Perburuk Situasi Timur Tengah
  Muhammadiyah Konsisten Membela Palestina dari Dulu Hingga Kini
  Enam bulan pertikaian di Gaza dalam angka
 
ads1

  Berita Utama
4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua

Prabowo sentil 'Hijau-Cokelat' jadi beking pelanggar hukum

Pidato Presiden Tunjukkan Komitmen Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi

Aliansi PHPI Sorot Kinerja Polda Metro, Proses Hukum Kasus Pelecehan Seksual 3 Wanita Tak Kunjung Tuntas

 

ads2

  Berita Terkini
 
Diminta AS mengakui Israel, begini sikap tegas Pakistan

PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!

4 WNA asal China Ditangkap Terkait Dugaan Tambang Ilegal di Papua

KPK Tangkap 1.880 Pelaku Korupsi Selama 22 Tahun Berdiri

Gedung 13 Lantai RS Roemani Resmi Berdiri, Muhammadiyah Dobrak Mitos Angka Horor!

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2