Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
WTO
Banyuwangi Gelar Kemah Aksi Menolak WTO
Tuesday 03 Dec 2013 15:13:18
 

Aksi penolakan bertempat di Pantai Cacalan, Banyuwangi, Forum For Environmental Learning (BaFFEL) bersama Aliansi Gerakan Rakyat Lawan Neokolonialisme dan Imperialisme (Gerak Lawan) menggelar kemah aksi menolak Konperensi WTO.(Foto: Ist)
 
BANYUWANGI, Berita HUKUM - Konperensi Tingkat Menteri (KTM) IX World Trade Organization (WTO) masih beberapa hari lagi akan dihelat di Bali, namun gelombang aksi penolakannya telah berlangsung lebih dulu di beberapa kota, salah satunya Banyuwangi. Bertempat di Pantai Cacalan, Banyuwangi, 29 November 2013 lalu Banyuwangi’s Forum For Environmental Learning (BaFFEL) bersama Aliansi Gerakan Rakyat Lawan Neokolonialisme dan Imperialisme (Gerak Lawan) menggelar kemah aksi menolak Konperensi WTO.

“Go to hell WTO, Indonesia is not for sale”, begitu bunyi spanduk sepanjang 10 meter yang dibentangkan oleh puluhan peserta kemah aksi.

“Indonesia seharusnya keluar dari WTO. Karena selama ini, WTO jadi alat bagi negara-negara maju untuk menekan Indonesia, agar membuat kebijakan yang sesuai dengan agenda negara-negara maju,” kata Koordinator Gerak Lawan Saiful Munir.

Munir menambahkan, WTO juga merupakan ancaman bagi lingkungan hidup Indonesia. “Lewat perjanjian yang tak adil, Indonesia dipaksa untuk menyerahkan kawasan konservasinya seperti taman nasional dan hutan lindung untuk dikuasai perusahaan tambang. Dan contoh ini ada di Banyuwangi, itulah kenapa kami memilih Banyuwangi sebagai salah satu titik aksi”, paparnya.

Peran Banyuwangi sebagai lumbung padi nasional juga menjadi alasan mengapa penolakan WTO mesti disuarakan di Banyuwangi. “Negara maju mendesain benih tanaman pangannya jadi mandul, agar petani tak bisa mengembangbiakkannya, sehingga petani selalu membeli benih setiap kali akan menanamnya. Pabrik benih negara-negara maju mendominasi pasar benih Indonesia, hal itu terjadi juga karena peran WTO”, terang Munir.(jtm/bhc/rby)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2