PROBOLINGGO, Berita HUKUM - Diduga salah konstruksi atap bangunan SDN Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur ambruk. Akibatnya 20 siswa yang kala itu sedang mengikuti proses belajar-mengajar di dalam ruang kelas 4 tersebut tertimpa atap.
Bahkan, 11 siswa mengalami luka-luka dan satu semaput (pingsan). Rifa'i salah satu guru yang kala itu sedang mengajar di dalam ruangan yang atapnya ambruk itu menceritakan, bahwa pada saat kejadian berlangsung, dia sedang memberikan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), di dalam ruangan kelas ?yang atap bangunannyaterbuat dari galvalum dengan rangka alumunium tersebut.
"Tadi kejadiannya sangat cepat sekali. Tiba-tiba atap langsung ambruk begitu saja. Dan saya waktu itu sempat tak sadarkan diri, jadi tidak tahu bagaimana tadi anak-anak bisa keluar dari dalam kelas," ucap Rifa'i kepada beritajatim.com saat ditemui di lokasi, Rabu (22/4).
20 siswa yang tertimpa bangunan itu kemudian dievakuasi keluar dari dalam ruangan kelas oleh sejumlah guru setempat. Bahkan, terdapat 11 siswa yang mengalami luka-luka langsung dibawa ke puskesmas setempat untuk mendapatkan perawatan.
"Tadi infonya yang mengalami luka-luka ada 11 siswa dan satu pingsan. Namun, yang dibawa ke sini (Puskesmas.red) hanya delapan siswa saja. Untuk siswa lainnya langsung pulang ke rumahnya masing-masing," kata Kepala Puskesmas Sumberasih, drg Wahyuningsih kepada beritajatim.com.
Ia menjelaskan, kedelapan siswa yang tertimpa atap bangunan ambruk itu hanya mengalami luka ringan saja dan sempat dirawat di ruang UGD Puskesmas setempat.
"Kebanyakan dari mereka masih shock dengan adanya kejadian itu. Sebab tadi ada siswa yang kebetulaan juga puasa, tidak sahur, jadinya kondisinya. Sehingga oleh orang tuanya langsung dibawa pulang," terangnya.
Sementara itu, Kepala SDN Jangur, Wiwik Hidayati mengatakan, bahwa atap bangunan yang ambruk itu adalah bangunan baru yakni tahun 2012 lalu. "Selama ini bangunan itu tidak ada apa-apa. Kalau pun bocor terkena hujan. Kami langsung memanggil tukang untuk memperbaikinya. Namun, mungkin ini yang namanya musibah jadi mau bagaimana lagi," pungkas perempuan berkacamata tersebut.(air/oci/beritajatim/bh/sya) |