Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Politik    
Jokowi
Arief Poyuono: 'Deflasi Menuju Depresi Ekonomi Jokowinomic'
2016-05-28 21:15:20
 

Ilustrasi. Arief Poyuono. SE. MKom sebagai Wakil Ketua Umum DPP Gerindra.(Foto: BH/mnd)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Catatan BPS menunjukan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April 2016 mengalami deflasi sebesar 0,45 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Menurut Bank Indonesia Deflasi disebabkan oleh Penurunan harga BBM ,Panen Raya dan Tarif dasar Listrik dengan catatan sebagai berikut Deflasi IHK terutama disumbang deflasi komponen barang yang diatur pemerintah (administered prices) dan komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods), tulis Arief Poyuono. SE. MKom sebagai Wakil Ketua Umum DPP Gerindra sebagaimana rilis pers yang diterima pewarta BeritaHUKUM.com pada, Sabtu (28/5).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan (yoy) mencapai 3,60 persen (yoy) serta berada dalam kisaran sasaran inflasi BI, yaitu sebesar 4 plus minus 1 persen (yoy).

Kelompok administered prices (AP) secara bulanan (mtm) dan tahunan (yoy) mencatat deflasi masing-masing 1,70 persen (mtm) dan 0,84 persen (yoy).

Deflasi kelompok AP pada bulan April 2016 terutama didorong penurunan harga BBM, tarif angkutan umum, dan tarif tenaga listrik (TTL).

Kelompok volatile foods (VF) secara bulanan mencatat deflasi sebesar 1,04 persen (mtm), atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 9,44 persen (yoy).

Deflasi kelompok VF terutama bersumber dari penurunan harga komoditas cabai merah dan beras, seiring dengan berlangsungnya panen raya.

"Selain itu, deflasi VF juga didorong oleh penurunan harga ikan segar, daging ayam ras, dan cabai rawit. Sementara itu, inflasi inti masih relatif rendah dan tercatat sebesar 0,15 persen (mtm) atau 3,41 persen (yoy), terutama karena terjaganya ekspektasi inflasi dan masih terbatasnya permintaan domestik,"

Lalu mari kita ulas bersama apakah benar Deflasi yang terjadi saat ini karena kinerja perekonomian pemerintahan Jokowi ?

Ada banyak penyebab terjadinya Deflasi misalnya karena daya beli masyarakat yang semakin menurun yang diakibatkan oleh makin turunnya pendapatan masyarakat akibat hilangnya Sumber pendapatan masyarakat seperti PHK, Gaji buruh yang dibayar dibawa UMR, Deflasi saat ini terjadi juga akibat banjirnya barang import cuci gudang dari China dimana di China terjadi over capacity production sehingga China harus mengobral murah murah hasil industrinya .

Jadi tidak benar Deflasi yang terjadi saat ini lebih dikarenakan oleh kinerja Ekonomi pemerintah Jokowi yang melakukan kebijakan penurunan harga BBM ,TDL Listrik Dan Panen raya .

Karena ketiga faktor tersenutb semua tidak mempengaruhi turunnya nilai inflansi ,yang terjadi justru Industri penghasil barang dan jasa di Indonesia mengurangi produksinya akibat daya beli masyarakat yang makin menurun sehingga barang dan jasa yang dilakukan hasilkan Industri di Indonesia tidak laku dan kalah bersaing dengan barang barang China .

Kalau deflasi dikatakan karena Panen raya itu juga bohong besar ,harga pangan murah juga akibat membanjirnya import pangan, hal lain Karena pemerintah untuk menghadapi hari raya juga mencanangkan Import besar besaran produk pangan seperti Gula, daging. Beras DLL sehingga jelas bohong besar kalau deflasi disebabkan oleh Panen raya .

Diperkirakan akibat deflasi yang tidak didasari oleh kinerja Ekonomi Nasional misalnya akibat cost produksi yang menurun atau kebijakan yang mengarah turun nilai inflansi, akan menyebabkan depresi ekonomi dengan dibarengi dengan jatuhnya kurs nilai mata uang rupiah terhadap USD ,serta angka pengangguran yang terus meningkat serta hancurnya Industri nasional akibat tidak mampu bersaing dengan produk produk import

Jadi pemerintahan Jokowi hingga saat ini saja dana LN yang masuk ke dalam negeri itu bukan karena Foreign Direct Investment tetapi karena Penjualan surat Utang Negara dan Obligasi pemerintah di luar negeri, jadi tunggu saja deflasi yang saat ini akan mengarah pada depresi ekonomi yang akan diikuti hancurnya Industri nasional dan collapsnya perbankan akibat Kredit macet akibat ketidakmampuan sektor Industri, properti tidak mampu membayar Kredit Bank .

Jadi, hati hati jika tidak ditangani dengan baik masalah negative deflasi ini akan menimbulkan depresi ekonomi yang mengarah pada Krisis Ekonomi, yang akan melahirkan ledakan pengangguran besar besaran.(ap/bh/mnd)



 
   Berita Terkait > Jokowi
 
  PDIP persilakan Jokowi keliling Indonesia: Tunjukkan ijazah asli!
  Usai Resmi Ditahan, Hasto Minta KPK Periksa Keluarga Jokowi
  Jokowi Bereaksi Usai Connie Bakrie Sebut Nama Iriana,Terlibat Skandal Pejabat Negara?
  PKS Minta Jokowi Lakukan Evaluasi, Tak Sekadar Minta Maaf
  PKB Sebut Selain Minta Maaf, Jokowi Juga Harus Sampaikan Pertanggungjawaban
 
ads1

  Berita Utama
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

Klarifikasi Tuduhan PETI, Kuasa Hukum PT Harmoni Alam Manise Beberkan Fakta

Hotman Paris Protes dan Tuding Kalapas Cipinang Diskriminasi soal Penahanan Razman Arif Nasution

 

ads2

  Berita Terkini
 
Roy-Tifa Versus Jokowi: Masihkah Kekuasaan Mengendalikan Hukum?

Pemerintah diminta audit ulang kerugian Rp 600 triliun akibat under-invoicing ekspor sawit

Purbaya sebut IKN terlalu sepi jadi pusat finansial internasional

Sinyal keterlibatan Menhut Raja Juli dalam kasus korupsi Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Terbukti bersalah, Nadiem dijatuhkan vonis 10 tahun penjara

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2