JAKARTA, Berita HUKUM - Sekitar belasan orang yang mengatasnamakan Forum Alumni Perguruan Tinggi Aktivis 98, mengadakan Konferensi Pers terkait peristiwa 12 Mei 1998, atau dikenal tragedi Trisakti, yang telah 16 tahun lalu, diantara mereka yang hadir sebagai pembicara ada Olis aktivis mahasiswa 98, yang mengaku sebagai salah satu dari anggota KPP HAM yang dibentuk saat itu.
Ada Ismet Matahari, aktivis mahasiswa 98 Teknik Sipil Universitas Trisakti, Kasino, Prof Danan dosen Trisakti dan Nico Andian mantan aktivis 98, sementara ditempat yang sama di Warung Daun ini terlihat pula kehadiran Kordinator Pro-Jokowi (Projo) Budi Arie Stiadi, dan juga Politisi PDI-P Masinton Pasaribu yang juga ada di Warung Daun Cikini Jakarta Pusat pada saat yang bersamaan.
Menurut Olis, paska peristiwa 12 Mei 98 ada 3 KPP HAM yang terbentuk, negara juga membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF), namun tidak ada tindak lanjut dari laporan hasil kerja TGFP hingga hari ini.
"Tanyakan apa yang dihasilkan oleh negara telah dihilangkan dan tidak pernah di proses, tidak ada agenda dengan Komnas HAM untuk bahas isue itu," ujar Olis, di Warung Daun Jakarta Pusat, Senin (12/5).
Sementara, Ismet Matahari, menerangkan dalam peristiwa penembakan mahasiswa Triksakti 12 Mei yang 16 tahun lalu, menurutnya, mimbar bebas mahasiwa Trisakti dihabisi oleh represif aparat ABRI saat itu dan bukan dari unsur Polri.
Menurutnya, sebagai saksi mata, tepat sekitar jam 4 sore mahasiwa dipukul mundur oleh aparat, lalu tidak siap dengan aparat yang segitu banyak, kawan ada yang sudah masuk got masih di gebukin dan banyak korban dari masyarakat sekitar Trisakti.
"Saya mahasiwa teknik sipil sekitar maghrib muncul peluru tajam setelah maghrib itu bukan polisi yang turun, tapi TNI (ABRI) saya tidak tau kesatuan dari mana, banyak korban jatuh dan mereka tidak di atas fly over, tapi sudah di pinggir pagar kampus Trisakti, ini perlu kita ungkap berapa kesatuan yang ditugaskan di Trisakti dari ABRI saat itu," ujar Ismet di Warung Daun Cikini Jakarta Pusat, Senin (12/5).
Sementara, Prof, Danan seorang dosen pengajar di Universitas Trisakti mengingatkan pada tahun 1998 anak- anak muda mahasiswa melakukan aksi damai dan dilawan dengan moncong senjata api, akibatnya semua mahasiswa Indonesia saat itu meradang.
"Mahasiswa pada saat itu tidak terpancing kerusuhan yang di glodok, di Cawang dan dimana kita berkumpul untuk ingatkan kembali, kita bisa tahu siapa yang menembak," ujar Prof Dadan Umar Dhani, tanpa menyembut nama pelaku penembakan mahasiswa dan kesatuan penembak mahasiswa Trisakti.
Sedangkan, Kasino mengingatkan 6 tuntutan Reformasi 98 belum tercapai semua hingga saat ini.
Enam tuntutan Reformasi adalah:
1. Adili Soeharto
2. Tegakkan Supremasi Hukum
3. Cabut Dwifungsi ABRI
4. Amandemen UUD 1945
5. Otonomi seluas-luasnya
6. Budayakan demokrasi yang sehat dan egaliter serta Hapus budaya KKN.(bhc/put) |