Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Penyanderaan
10 Warga Jepang dan 1 Warga Malaysia Tewas Saat Krisis Penyanderaan Aljazair
Friday 25 Jan 2013 17:41:29
 

Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga.(Foto: Ist)
 
ALJAZAIR, Berita HUKUM – Penyanderaan yang dilakukan oleh 32 orang militan bersenjata cukup banyak memakan korban jiwa, setelah mereka menyerbu masuk dan bertahan. 10 korban diantaranya adalah warga Jepang yang bekerja di British Petroleum (BP) tersebut, dan seorang warga asal Malaysia juga tewas dalam krisis penyanderaan di kilang gas Aljazair. Bahkan di kabarkan seorang pekerja Malaysia lainnya hingga kini belum ditemukan.

Kesepuluh mayat pekerja asal negeri Sakura itu dalam kondisi sangat rusak, diakibatkan sengitnya pertempuran antara militan dan pasukan khusus pemerintah, peluru dari persenjataan berat hingga ledakan-ledakan bom.

"Kami sangat berduka, sangat mendalam, karena banyak nyawa manusia yang berharga yang hilang, dan kami sangat mengutuk tindakan biadab terorisme," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga kepada Wartawan seperti dilansir japantimes.co.jp, Jumat (25/1).

Suga menerima panggilan konfirmasi berita dari Wakil Menteri Luar Negeri Parlemen Minoru Kiuchi, yang berada di Aljazair, sekitar pukul 19:12 Kamis (25/1)

Kiuchi, yang memimpin tim investigasi Jepang, mengatakan kepada Suga ia menemukan terakhir dari 17 pekerja Jepang JGC yang berada di kompleks ketika kelompok militan Islam menyerang fasilitas pekan lalu. Tujuh Jepang JGC pekerja selamat cobaan dan menuju rumah.

Pemerintah Jepang telah menolak untuk mengungkapkan nama-nama orang mati, karena mempertimbangkan perasaan keluarga mereka dan keinginan Japan Gasoline Corporation (JGC), yang telah bekerja sama erat dengan pemerintah sejak krisis penyanderaan empat hari meletus 16 Januari di gas alam Amenas Ain kompleks di gurun Sahara.

Kementerian Luar Negeri Malaysia tengah bekerja sama dengan pengelola kilang gas In Amenas untuk menerbangkan jasad korban kembali ke Malaysia. Pria Malaysia yang tewas itu diidentifikasi sebagai Chong Chung Ngen.

Sementara warga Malaysia yang masih hilang diidentifikasi sebagai Tan Ping Wee. Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman menyatakan, pemerintah Malaysia prihatin atas kurangnya detail dari otoritas Aljazair dalam upaya menemukan Tan.

"Terlebih lagi, statemen resmi yang dikeluarkan oleh otoritas Aljazair tidak menyebutkan detail operasi penyelamatan serta daftar lengkap para sandera yang hilang," tutur Anifah.

Dua warga Malaysia lainnya yang bekerja di kilang gas tersebut, telah dipindahkan ke Algiers, ibukota Aljazair untuk menunggu diterbangkan kembali ke Malaysia. Sementara seorang lagi pekerja Malaysia telah menawarkan diri untuk tetap tinggal di Aljazair dan membantu menemukan Tan.

Sebanyak 37 warga asing dari sejumlah negara dan seorang pekerja Aljazair tewas dalam aksi penyanderaan yang dilakukan para militan pekan lalu. Dalam aksinya, para militan menuntut pembebasan para tahanan muslim dan dihentikannya intervensi militer Prancis di Mali. Beruntung dalam krisis ini, seorang pekerja asal Indonesia berinsial AA termasuk yang berhasil diselamatkan oleh pasukan khusus Aljazair.

Otoritas Aljazair saat ini terus melakukan pencarian lima pekerja asing yang belum ditemukan. Otoritas setempat juga tengah berupaya mengidentifikasi tujuh jasad yang ditemukan di lokasi kilang gas In Amenas.

Penyanderaan ini buah dari penyerbuan pasukan Prancis ke Mali, negara tetangga Aljazair, untuk mengusir al-Qaeda. Mokhtar menuntut hengkangnya pasukan Prancis dari Mali yang ikut dalam operasi pemberantasan al-Qaeda di negara tersebut.

Agresi Prancis bermula saat Presiden interim Mali Dioncounda Traore meminta bantuan pada pemerintahan di Paris, setelah ribuan pasukan al-Qaeda merebut kota Konna dari tangan pemerintah.
Sebelumnya antara pemerintah Mali dan kelompok separatis Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA) bertempur sengit sejak Januari 2012. Tuntutan MNLA sendiri adalah kemerdekaan atau otonomi penuh utara Mali.

MNLA awalnya didukung oleh kelompok Islam Ansar Dine, kelompok yang disebut radikal oleh pemerintah setempat. Namun belakangan kedua kelompok ini pecah setelah adanya perbedaan visi soal pembentukan negara Islam. MNLA kalah dalam bentrokan senjata dengan Ansar Dine yang dibekingi oleh kelompok Jihad Afrika Barat (MOJWA) yang merupakan sempalan Al-Qaeda di negara Islam Maghreb (AQIM).

Kini, perang berubah menjadi antara Mali dan AQIM. Al-Qaeda cabang Maghreb (Libya, Aljazair, Maroko, Tunisia, Mauritius) adalah yang paling kuat dan paling kaya di antara "waralaba" al-Qaeda lainnya. Merasa punya utang masa kolonial -Mali pernah dijajah Prancis-akhirnya Presiden Francois Hollande menyetujui permohonan tersebut.

Konflik kali ini sebenarnya adalah hasil dari keacuhan pemerintah Mali. Sebelumnya selama berbulan-bulan, para diplomat dan politisi Barat, termasuk Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan Presiden Prancis Francois Hollande telah mendesak Mali untuk melakukan serangan militer terhadap kelompok ini.

Namun, anjuran ini tak dihiraukan. Mali mengaku enggan terseret dalam pertempuran yang dipimpin Barat dan terjadinya pertumpahan darah di tanah air.

Pemerintah Aljazair awalnya malas meladeni kelompok ini dan tidak mengusik mereka, namun terus mendorong mereka ke wilayah selatan Sahara. Sebagai gantinya, kelompok Ansar Dine yang juga terdapat di negara ini tidak menyerang fasilitas energi yang vital bagi Aljazair.

Namun, "mesranya" hubungan kedua pihak terusik saat pemerintahan Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika memberikan izin bagi pesawat tempur Prancis melintasi wilayah mereka untuk menggempur kelompok militan di Mali. Bouteflika juga menutup perbatasan selatan dengan Mali Utara, sekaligus juga menutup penyaluran bahan bakar dari Aljazair kepada kelompok ini. .

"Hal ini menunjukkan bahwa Aljazair tidak akan lagi membiarkan para teroris berbuat semau mereka," kata Francois Heisbourg, ahli di International Institute of Strategic Studies di London, Inggris, dilansir TIME.

Perjanjian untuk tidak menyerang fasilitas energi juga batal. Kelompok Mokhtar menyerang kilang minyak di In Amenas. Fasilitas ini sangat penting bagi Aljazair, karena menyumbang 60 persen pemasukan negara dan 95 persen ekspor di sektor gas.

Fasilitas yang memompa sekitar seperlima gas alam Aljazair ini adalah penyuplai gas terbesar ketiga ke Eropa dan penyalur utama gas ke Amerika Serikat. Menurut Departemen Energi AS, Aljazair juga memiliki 12,2 miliar barel cadangan minyak bumi, ke tiga terbesar di Afrika setelah Libya dan Nigeria.(dbs/bhc/mdb)



 
   Berita Terkait > Penyanderaan
 
  Penjelasan Menteri LHK Terkait Penyanderaan Tim KLHK di Rokan Hulu
  10 Warga Jepang dan 1 Warga Malaysia Tewas Saat Krisis Penyanderaan Aljazair
 
ads1

  Berita Utama
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kejari Magetan Tahan Ketua DPRD Dkk Dugaan Korupsi Rp 242 M Dana Hibah

Kejagung Tangkap dan Tetapkan Ketua Ombudsman Hery Susanto sebagai Tersangka Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel

Komisi III DPR Beri Penghargaan Upaya Kapolres Metro Bekasi Redam Konflik hingga Warga dan Pengembang Damai

PUSPOM TNI Sebut 4 Oknum Anggota BAIS, Terduga Pelaku Penyiraman Aktivis KontraS Andrie Yunus

Diduga Peras Tersangka hingga Rp 375 Juta, Direktur Resnarkoba Polda NTT Dicopot

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2