Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
SDM
Upaya Pembentukan Manajemen Talenta Nasional Gagasan Progresif - Revolusioner Atasi Keterbelakangan SDM
2019-12-27 09:11:22
 

Ketua Umum DPP Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) dan sekaligus Dewan Pakar DPP PA GMNI, Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si (Foto: BH /mnd)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Ketua Umum DPP Gerakan Pembumian Pancasila (GPP), yang juga sebagai Dewan Pakar DPP PA GMNI, Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si sangat mendukung sepenuhnya upaya pemerintah Indonesia dalam pembentukan manajemen talenta nasional (MTN).

Seperti diketahui, sebelumnya Kepala Staf Presiden, Dr. Moeldoko mengungkapkan kalau baru-baru ini manajemen talenta nasional bakal menjadi pusat data SDM yang unggul di Indonesia.

Merespon hal itu, Dr. Anton, menanggapi bahwa, "rencana pembentukan MTN menjadi penting, strategis, dan merupakan gagasan progresif - revolusioner sebagai respon mengatasi 'keterbelakangan SDM di Indonesia', terlebih dalam menghadapi era industri 4.0 maupun mempersiapkan SDM Unggul menuju era industri 5.0," ungkapnya Kamis (27/12).

Perlu digarisbawahi, era Industri 5.0 ditandai pergeseran paradigma (shifting paradigm) dari pendekatan Sumber Daya Manusia menuju Human Capital, lanjut Anton.

Era human capital ditandai oleh kesadaran yang kuat seluruh komponen bangsa dimana manusia Indonesia mestinya menjadi subyek ideologis, bukan sebagai obyek, artinya perlu dilahirkan pribadi-pribadi unggul dalam membangun Indonesia maju yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan (Jasmerah: manajemen TRISAKTI-Bung Karno). Lemahnya manajemen TRISAKTI termanifestasi dari lemahnya SDM/human capital.

Beberapa indikator lemahnya SDM/human capital di Indonesia terlihat dari: "peringkat Human Development Index (HDI) RI yang berada di urutan ke-116 dari 189 negara. Selain itu ranking Global Talent Competitiveness Index (GTCI) Indonesia berada di urutan ke-77 dari 119 negara", timpal Dr. Anton, salah seorang Dr. Psikologi Industri dan Organisasi, yang konsern pada pengembangan human capital di Indonesia.

Seyogyanya pengembangan manajenen talenta saat ini perlu lebih difokuskan pada generasi muda (mulai dari generasi Y, Z, dan Alpha).

Pengembangan talenta harus menjadi prasyarat dalam pengembangan kompetensi. Jangan dibalik, seperti yang berkembang selama ini, dimana fokus SDM lebih diarahkan pada pengembangan kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan), tanpa memperhatikan talenta, ujar Dr. Anton yang kerap memperkenalkan dan mengembangkan Talent Mapping bersama Prime Consulting.

Lebih jauh, Dr Anton menekankan, dalam manajemen talenta, salah satu keutamaan initi yang harus ditanamkan bagi generasi muda (berencana), masa depan Indonesia Emas 2045 adalah Pembangunan Karakter Personal dan Bangsa (Nation and Personal Character Building) bernafaskan Pancasila. Bung Karno pernah menegaskan diperlukannya pembangunan jiwa bangsa, yang dikenal sebagai 'Nation and Character Building'. Tugas sejarah bagi kita adalah meneruskan cita-cita Bung Karno di atas dalam upaya membangun SDM Unggul.

Dr. Antonius Dieben R.Manurung, M.Si., yang juga sebagai Direktur Eksekutif Institute of People Development telah berhasil mengembangkan core competency model dalam "Nation and Pesonal Character Building-NPCB" dan telah mengembangkan program NPCB bagi generasi muda sebanyak 36 angkatan. Lebih jauh, Anton mengutarakan pemikirannya bahwa Nation and Character Building menjadi lebih lengkap bila menekankan pendekatan personal terlebih dahulu sebelum pendekatan bangsa (nation).

Anton berharap, Program NPCB dan Talent Mapping ke depan bisa dipertimbangkan menjadi dasar Manajemen Talenta Nasional dalam uoaya pencapaian output dan outcomes program, demikian ujarnya saat diwawancarai wartawan via hubungan selular, Jakarta, Jumat (27/12).

Pendekatan Nation dan Personal Character Building bernafaskan Pancasila layak dan sepatutnya didengungkan terus-menerus dan dibangun secara progresif-revolusioner, tukasnya.

Dr. Anton, yang juga merupakan akademisi berkecimpung di Kampus Universitas Mercu Buana juga menekankan bahwa pendekatan NPCB bisa menjadi solusi adaptif guna merespon berbagai bentuk dan manifestasi 'Radikalisme-Fundamentalisme Trans-Nasional dan eksploitasi (penindasan dan penghisapan) neo-liberalisme (neolib)/neo-kolonialisme - imperialisme (nekolim)' yang tengah berlangsung secara terstruktur sistematis, dan masif di bumi nusantara selama ini.

Oleh karenanya, sangat diperlukan upaya mempromosikan inti daripada nilai-nilai etis sebagai dasar karakter yang baik bersumber dari Pancasila, nilai nilai luhur warisan pendiri bangsa (Founding Fathers): Bung Karno - Bung Hatta, Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara dengan Trilogi Kepemimpinannya, serta mengeksplorasi dan mengelaborasi Kearifan Lokal (Local Wisdom) yang kita miliki sebagai kekayaan budaya bangsa.

Keseluruhan nilai keutamaan inti di atas mendorong upaya pengembangan dan peningkatan motivasi berprestasi (achievement motivation) bagi seluruh elemen bangsa, khususnya generasi usia dini hingga dewasa awal (mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK, Pemuda, hingga Perguruan Tinggi-Mahasiswa/Sarjana/Pascasarjana, menjemput Indonesia Emas 2045," papar pria yang juga merupakan Dewan Pakar DPP PA GMNI periode 2015 - 2020 itu menegaskan.

Sebagai catatan akhir, Dr. Anton yang saat ini didaulat sebagai Ketua Umum DPP Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) menekankan dalam Pengembangan NPCB bernafaskan Spiritualitas Pancasila perlu melibatkan seluruh Civitas Pembelajaran (Orang Tua, Guru, Dosen, Pemerhati, dan para Pendidik/pembelajar lainnya) berbagi tugas dan tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan budi pekerti, imbuhnya

Civitas pembelajaran perlu membantu Pemerintah 'Memupuk kepemimpinan moral dan dukungan jangka panjang terhadap inisiatif pendidikan karakter dan budi pekerti,' sebagai inti NPCB dan talent mapping, yang selanjutnya menjadi dasar pengembangan Manajemen Talenta Nasional, tandasnya.(bh/mnd)



 
   Berita Terkait > SDM
 
  ALPEKSI Siap Kawal Visi SDM Unggul Indonesia Maju
  Upaya Pembentukan Manajemen Talenta Nasional Gagasan Progresif - Revolusioner Atasi Keterbelakangan SDM
  Muhammad Syafrudin: Pemberdayaan SDM Penting di Daerah Kepulauan
  Soal Riset Logistik Indonesia-Belanda Adakan Kerjasama
  KPI Pusat Berkomitmen Tingkatkan Kualitas SDM Penyiaran
 
ads1

  Berita Utama
Kasus Kematian Corona Covid-19 Indonesia Tertinggi di Dunia

Polisi Ungkap 3 Kasus Penyebaran Hoax terkait Wabah Virus Covid-19

Gugus Tugas Covid-19: Penyemprotan Cairan Disinfektan Tidak Dianjurkan dengan Cara 'Fogging'

Pemerintah Harus Melarang Mudik dan Menerapkan Karantina Wilayah

 

ads2

  Berita Terkini
 
Kementerian BUMN Berikan Bantuan APD Covid-19 ke RSU Adhyaksa

Gubernur Anies Imbau RT/RW dan PKK Aktif Mendata Serta Sosialisasi Warga dengan Risiko Tinggi Tertular COVID-19

PSSB Langsung Darurat Sipil, Ubedilah Badrun: Presiden Jokowi Bisa Langgar Konstitusi

Tidak Sepakat Kebijakan Pemerintah, Saleh Daulay: Yang Darurat Itu Kesehatan Masyarakat!

'Lockdown' di India Berubah Menjadi Tragedi Kemanusiaan

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2