Chow" /> BeritaHUKUM.com
Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Hong Kong
Siapa Agnes Chow, Aktivis Perempuan yang Disebut 'Mulan yang Asli' dan 'Dewi Demokrasi'?
2020-08-13 10:28:47
 

Agnes Chow.(Foto: Istimewa)
 
HONG KONG, Berita HUKUM - Agnes Chow, aktivis pro-demokrasi berusia 23 tahun dari Hong Kong, mendapat julukan baru.

Para pendukungnya mulai memanggilnya "Mulan yang asli" - mengacu pada tokoh pahlawan perempuan China yang legendaris, yang diceritakan berjuang menyelamatkan keluarga dan negaranya.

Chow adalah salah satu dari segelintir aktivis dan tokoh-tokoh yang ditangkap minggu ini dengan tudingan melanggar undang-undang keamanan baru yang kontroversial yang diberlakukan oleh Beijing.

Dia dituduh "berkolusi dengan pihak asing" - jika terbukti bersalah, dia bisa menghadapi hukuman penjara seumur hidup.

Dia sekarang dibebaskan dengan jaminan, tetapi penangkapannya memicu dukungan, dengan banyak orang yang menulis #FreeAgnes (bebaskan Agnes) di media sosial.

Mulan adalah legenda China kuno yang populer secara global melalui film animasi Disney tahun 1998.

Film itu menampilkan seorang perempuan muda yang menyamar menjadi seorang pria agar dia bisa berjuang untuk menyelamatkan keluarga dan negaranya.

Film remake live-action Mulan dijadwalkan untuk dirilis tahun ini dan dimainkan oleh aktris China-Amerika Liu Yifei.





Liu Yifei


Keterangan gambar,


Liu Yifei dipandang telah memberi dukungan pada polisi Hong Kong yang disebut brutal terhadap pendemo pro-demokrasi Hong Kong.




Tapi hampir sepanjang tahun lalu, pengunjuk rasa Hong Kong yang menyerukan reformasi demokrasi terlibat dalam bentrokan yang semakin keras dengan polisi, yang dituduh menggunakan kekerasan berlebihan.

Kelompok pro-Beijing menuduh pengunjuk rasa menyerang polisi dan orang-orang yang menentang protes Hong Kong.

Dalam satu ledakan kerusuhan, Liu membagikan unggahan di Weibo dari surat kabar Beijing yang dikelola pemerintah People's Daily yang berbunyi dalam bahasa Mandarin: "Saya juga mendukung polisi Hong Kong. Anda dapat memukuli saya sekarang."

Pengunjuk rasa pro-demokrasi dengan cepat mulai mengecam Liu, menuduhnya mendukung kebrutalan polisi.

Film tersebut segera menjadi simbol politik - dengan warga China menyuarakan dukungan mereka untuk Liu, sementara pendukung pro-demokrasi Hong Kong menyerukan boikot.

Disney baru-baru ini mengumumkan bahwa Mulan hanya akan dirilis di bioskop secara terbatas tetapi bisa ditonton secara streaming di layanan Disney +-nya, dengan alasan biaya karena pandemi Covid-19.





People calling for a boycott of Mulan


Keterangan gambar,


Sejumlah warga Hong Kong menyerukan untuk memboikut film Mulan.




Banyak yang mulai membandingkan Liu dan Chow - mereka mengatakan bahwa aktivis adalah representasi sebenarnya dari seorang pahlawan perempuan yang bertarung.
"Agnes mendemonstrasikan seperti apa keberanian sejati itu," kata seorang pengguna di Twitter. "Agnes adalah Mulan-ku."

"Agnes Chow harus menjadi Mulan yang sebenarnya. Dia jauh lebih baik dari Liu yang [mendukung] kebrutalan polisi Hong Kong. Dia berani dan mau... memperjuangkan kebebasan," kata yang lain.

Chow - yang fasih berbahasa Jepang - juga memiliki pengikut yang cukup besar di Jepang, dengan beberapa media Jepang menyebutnya sebagai "Dewi Demokrasi".

Apa lagi yang kita ketahui tentang Agnes Chow?

Chow telah aktif dalam politik Hong Kong sejak usia muda. Dia bergabung dengan gerakan yang dipimpin anak-anak muda Hong Kong pada usia 15 tahun.

Gerakan itu memprotes rencana untuk menerapkan "pendidikan moral dan nasional" di sekolah umum.

Para siswa khawatir bahwa itu menandakan pengenalan jenis pendidikan yang disensor ketat, sebagaimana yang diterapkan di daratan China.

Mereka melakukan aksi duduk besar-besaran dan rencana itu akhirnya dibatalkan.

Selama protes inilah dia bertemu dengan aktivis terkenal Joshua Wong.





Scholarism spokeswoman Agnes Chow Ting (Left) and Scholarism Convenor Joshua Wong Chi-fung , 2016


Keterangan gambar,


Agnes Chow dan Joshua Wong tahun 2016




Keduanya kemudian menjadi tokoh kunci dalam gerakan Payung - serangkaian protes duduk pada tahun 2014 yang menuntut agar Hong Kong dapat memilih pemimpinnya sendiri.

Protes itu tidak berhasil - tetapi menciptakan generasi baru pemimpin politik muda.



Chow, Wong dan Nathan Law, juga aktivis lainnya, kemudian mendirikan partai pro-demokrasi Demosisto pada tahun 2016.

Pada 2018, Chow mencoba mencalonkan diri dalam pemilihan lokal - dia melepas kewarganegaraan Inggrisnya sebagai syarat maju dalam pemilihan lokal dan menunda ujian akhir di universitas.

Namun pencalonannya ditolak karena para pejabat mengatakan dia mendukung "penentuan nasib sendiri" untuk Hong Kong.

"Masalah yang paling penting bukanlah apakah saya dapat mencalonkan diri untuk pemilihan mendatang, melainkan apakah hak dan kebebasan paling dasar rakyat Hong Kong dapat dilindungi," katanya kemudian, menurut laporan SCMP.





A riot police officer (R) detains a man (C) during a protest by district councillors at a mall in Yuen Long in Hong Kong on July 19, 2020


Keterangan gambar,


Demonstrasi di Hong Kong tahun 2019 berujung kerusuhan.




Pada tahun 2019, protes besar-besaran meletus di Hong Kong, dengan banyak yang menentang RUU ekstradisi yang memungkinkan tersangka di Hong Kong diadili di China daratan.

Pada Agustus tahun itu, Chow ditangkap karena diduga berpartisipasi dalam, dan menghasut, pertemuan tidak sah di markas besar polisi Hong Kong pada awal Juni.

Tokoh pro-demokrasi terkemuka lainnya termasuk Joshua Wong dan Andy Chan juga ditangkap.

Dia kemudian mengaku bersalah.

Kemudian pada 30 Juni tahun ini, undang-undang keamanan baru diberlakukan.

Beberapa aktivis politik, seperti Law dari partai yang sama - memilih melarikan diri dari Hong Kong, karena takut dipenjara oleh Beijing.

Chow bersama dengan Wong mengumumkan bahwa mereka mundur dari Demosisto - yang kemudian dibubarkan - tetapi memilih untuk tetap di Hong Kong.





Agnes Chow was arrested earlier this week


Keterangan gambar,


Agnes Chow ditahan awal pekan ini.




Awal pekan ini, Chow ditangkap dalam operasi keamanan nasional yang berujung pada penangkapan tokoh-tokoh terkemuka lainnya seperti taipan perusahaan media Jimmy Lai.

Belakangan terungkap bahwa Chow ditangkap karena "berkolusi dengan pihak asing" di bawah undang-undang keamanan nasional yang baru.

"Saya katakan bahwa sangat jelas rezim dan pemerintah menggunakan undang-undang keamanan nasional untuk menekan mereka yang bertentangan secara politik," katanya pada wartawan setelah dibebaskan dengan jaminan.

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan bahwa undang-undang itu akan digunakan untuk mengkriminalisasi pengunjuk rasa dan mengurangi otonomi Hong Kong.

Di bawah undang-undang baru, menghasut kebencian terhadap pemerintah pusat China dan pemerintah daerah Hong Kong adalah perbuatan ilegal.

Undang-undang ini mengkriminalisasi tindakan pemisahan diri, subversi, terorisme dan kolusi dengan pihak asing.

Chow kemudian mengatakan dalam sebuah pernyataan di Facebook bahwa penangkapannya yang terakhir itu adalah yang paling "menakutkan" sejauh ini.

"Setelah ditangkap empat kali, ini yang paling menakutkan. Namun, bahkan di kantor polisi, saya masih bisa mendengar dari pengacara saya tentang cinta dan perhatian dari semua orang kepada saya," katanya.

"Jalan [di depan] sulit. Jaga dirimu baik-baik."(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Hong Kong
 
  Siapa Agnes Chow, Aktivis Perempuan yang Disebut 'Mulan yang Asli' dan 'Dewi Demokrasi'?
  China Nyatakan akan Balas 'Niat Jahat' Presiden Trump karena Mendukung Protes Prodemokrasi Hong Kong dalam Undang-undang
  Hong Kong Resesi Ekonomi Pertama dalam Satu Dekade Akibat Unjuk Rasa Anti-Pemerintahan
  Demonstrasi Hong Kong: Sekolah dan Universitas Ditutup karena Alasan Keamanan
  Hong Kong Akhirnya Mencabut RUU Ekstradisi ke China Daratan yang Memicu Protes Besar
 
ads1

  Berita Utama
Jansen Sitindaon: Dulu Jadi Jubir Sandiaga, Sekarang Jadi Lawan

Said Didu: Bu Menkeu, Dulu untuk Dampak Krisis Ditolak, Sekarang Jiwasraya 'Dirampok' Kok Malah Dikucurkan 20 T?

Hasil Olah TKP Kebakaran Gedung Kejaksaan Agung, Bareskrim Polri: Ada Unsur Pidana

Sekda DKI Jakarta Saefullah Tutup Usia

 

ads2

  Berita Terkini
 
Ribuan Warga Ketapang Mengamuk, TKA China jadi Bulan-bulanan, Dipukuli dan Kabur ke Hutan

Jansen Sitindaon: Dulu Jadi Jubir Sandiaga, Sekarang Jadi Lawan

Pandemi Pukul Industri dan UMKM, Gus Jazil: Negara Harus Hadir Bantu Mereka Bangkit

Kemenhub Selenggarakan Sosialisasi Aturan Keselamatan Pesepeda, Wajib Pakai Helm atau Tidak?

Mahasiswa Tuntut Perdana Menteri Thailand Turun dan Reformasi Monarki, 'Ganyang Feodalisme,Hidup Rakyat!'

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2