Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Lingkungan    
Korea Utara
Setelah Sukses Uji 'Bom Hidrogen' Korut, Apakah Urusannya Masih Seperti Biasa?
2017-09-04 04:11:19
 

Lewat uji coba nuklir keenamnya, Kim Jong-un 'menyampaikan pesan' tidak akan menghentikan program kegiatan nuklirnya walaupun dikecam dunia internasional.(Foto: Istimewa)
 
KOREA UTARA, Berita HUKUM - Amerika Serikat bergabung dengan Korea Utara, Jepang, Cina, dan Rusia untuk mengecam uji coba senjata nuklir yang canggih oleh Korea Utara.

Pemerintah Pyongyang mengatakan sudah berhasil melakukan uji coba bom hidrogen yang bisa dipasangkan ke rudal jarak jauh.

Menanggapinya, Presiden Donald Trump bahwa 'kata dan tindakan' Korea Utara itu 'amat bermusuhan dan berbahaya'.

Uji coba yang diakui sebagai bom hidrogen ini tak sampai seminggu setelah Korut meluncurkan rudal yang melewati wilayah angkasa Jepang sebelum jatuh di lepas pantai Pulau Hokkaido.

Rangkaian uji coba rudal Korea Utara dalam beberapa waktu belakangan memicu kecaman dari dunia internasional, namun apakah uji coba bom hidrogen yang diumumkan ini akan memicu kecaman yang sama dengan sebelumnya atau memiliki konsekuensi yang lebih serius.

Korea UtaraHak atas fotoREUTERS
Image captionBerita TV Korea Utara tentang uji coba nuklir bom hidrogen disiarkan di Tokyo, Jepang.

Bagaimana reaksi sejauh ini?

Dengan mengecam uji coba bom terbaru sebagai 'bermusuhan' dan 'berbahaya', Presiden Trump menyebut Korea Utara adalah 'bangsa nakal' yang menjadi 'ancaman besar dan memalukan' bagi Cina, yang merupakan sekutu utama Korea Utara.

Dia menambahkan 'pembicaraan yang menenangkan' dari Korea Selatan tidak bekerja karena negara komunis yang tertutup tersebut 'hanya mengerti satu hal'.

Gedung Putih belakangan menjelaskan Presiden Amerika Serikat akan menggelar pertemuan keamanan nasional sementara Menteri Keuangan, Steven Mnuchin. mengatakan akan mengajukan sanksi baru untuk mencegah negara apapun yang melakukan perdangan dengan Korea Utara untuk menjalin bisnis dengan AS.
__________________________________________________________

Apa yang bisa dilakukan?

Jonathan Marcus - wartawan urusan pertahanan dan diplomatik BBC

Lewat uji coba nuklir-nya yang keeman, yang kemungkinan merupakan terbesar sejauh ini, Korea Utara juga mengirim pesan politik yang jelas.

Terlepas dari 'gertakan dan ancaman' yang disampaikan pemerintahan Donald Trump di Washington dan kecaman yang meluas dari dunia internasional, Pyongyang tidak akan menghentikan atau mengendalikan kegiatan nuklirnya.

Korea Selatan, militerHak atas fotoGETTY
Image captionTank Korea Selatan saat latiham militer di Paju, Minggu (03/09), di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.

Yang mengkawatirkan adalah bahwa program tersebut berkembang di semua sektor dengan laju yang lebih cepat dari yang diperkirakan banyak orang.

Sejauh ini semua upaya untuk menekan Korea Utara -baik itu sanksi, pengucilan, dan ancaman militer- gagal untuk menggerakkan Pyongyang.

Jadi bisakah ditempuh langkah lebih lanjut?

Jelas namun sanksi ekonomi yang lebih keras akan berpotensi melumpuhkan rezim dan mendorong ke arah bencana, yang tidak ingin dilakukan Cina.

Pengendalian dan pencegahan kini akan mengedepan karena dunia menyesuaikan kebijakannya dari upaya untuk menghentikan program nuklir Pyongyang menjadi hidup bersama Korea Utara yang memiliki senjata nuklir.
__________________________________________________________

Sementara Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, menyerukan tanggapan 'yang paling kuat yang memungkinkan', termasuk sanksi PBB untuk mengasingkan total pemerintah Pyongyang.

"Saya tidak bisa tidak kecewa dan marah," tegas Moon dan menambakan program senjata Korea Utara merupakan 'ancaman atas perdamaian dunia' dan hanya akan 'menguclikan negara itu lebih lanjut'.

Korea UtaraHak atas fotoGEOEYE
Image captionFoto satelit GeoEye memperlihatkan sarana uji coba nuklir Punggye-ri pada 23 Januari 2013.

Cina juga mengungkapkan 'kecaman keras' karena negara itu telah mengabaikan penentangan yang meluas atas program senjatanya oleh komunitas internasional.

Sedangkan Rusia mendesak semua pihak untuk melakukan perundingan dengan mengatakannya sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan masalah Semenanjung Korea.
Apa arti uji coba terbaru ini?

Korea Selatan mengatakan uji coba terbaru berlangsung di kawasan Kilju, tempat lokasi uji coba nuklir Punggye-ri. 'Gempa buatan' mencapai 9,8 kali lebih kuat dari gempa saat uji coba kelima Korea Utara pada September 2016, menurut badan meteorologi negara itu.

Walapun para ahli menyarankan untuk tidak menerima pernyataan Korea Utara begitu saja, uji coba terbaru ini merupakan yang tebesar dan yang paling berhasil sejauh ini dan pesannya jelas: Korea Utara ingin memperlihatkan mereka tahu membuat hulu ledak nuklir.
_________________________________________________________

Apakah Cina akan melarang?

Robin Brant - BBC News di Shanghai, Cina

Uji coba nuklir Korea Utara yang keenam ini merupakan penolakan terang-terangan atas semua yang diminta oleh satu-satunya sekutunya.

Tanggapan Beijing bisa diduga: kecaman dan desakan untuk menghentikan provokasi serta berdialog, namun juga mendesak Korea Utara untuk menerima 'keinginan keras' dari komunitas internasional atas denuklirisasi Semenanjung Korea.

Korea Utara, Kim Jong-unHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionUji coba nuklir terbaru Korut juga menjadi pertanda bahda Kim Jong-un mengabaikan seruan Cina, yang merupakan sekutu utamanya.

Bagaimanapun tidak ada tanda bahwa Cina bersedia jika 'keinginan keras' tersebut melampaui sanksi PBB, yang baru-baru ini melarang ekpsor makanan laut dan bijih besi, sebagai tambahan atas larangan sebelumnya atas batu bara dan mineral.

Perlu pula dicatat bahwa uji coba yang disebut bom hidrogen ini berlangsung pada saat Presiden Cina, Xi Jinping, akan menyambut beberapa pemimpin dunia dalam pertemuan puncak negara-negara perekonomian baru, Brics, di Xiamen, Cina timur.

Bahkan media pemerintah tidak bisa mengabaikan begitu saja bahwa pemimpin mereka diperlakukan dengan kasar -dan juga dipermalukan- oleh sekutu yang juga tetangganya yang dikucilkan oleh dunia internasional.

Seorang ahli senjata nuklir, Catherine Dill, mengatakan kepada BBC masih belum jelas persisnya senjata nuklir yang diuji-coba oleh Korea Utara tersebut.

"Namun berdasarkan seismik-nya (berkenaan dengan gempa bumi), hasil uji coba ini jelas dalam urutan kekuaatannya lebih tinggi dari hasil uji coba sebelumnya."

Dia menambahkan informasi yang tersedia saat ini tidak memastikan bahwa senjata thermonuclear sudah diuji-coba namun tampaknya ada kemungkinan itu.

Bom hidrogen jauh lebih kuat dari bom atom, dengan menggunakan fusi, penyatuan atom-atom, untuk melepaskan sejumlah besar energi sedangkan bom atom menggunakan fisi nuklir atau pemishan atom.

Negara komunis yang tertutup itu mengatakan bahwa uji nuklir keenam mereka "sukses dengan baik", beberapa jam setelah seismolog mendeteksi getaran di permukaan tanah.

Pyongyang mengatakan mereka telah menguji bom hidrogen - alat yang berkali-kali lipat lebih kuat dari bom atom.

Analis mengatakan bahwa klaim tersebut tak bisa langsung dipercaya, namun jelas bahwa kemampuan nuklir negara itu jelas lebih maju.

Korea Utara terakhir kali melakukan uji nuklir pada September 2016. Mereka telah melawan sanksi PBB dan tekanan internasional untuk mengembangkan senjata nuklir dan untuk menguji rudal yang berpotensi bisa mencapai AS.

Pejabat Korea Selatan mengatakan bahwa pengujian tersebut berlangsung di Kilju, lokasi situs nuklir Punggye-ri milik Korea Utara.

"Gempa buatan" itu 9,8 kali lebih kuat dari getaran yang ditimbulkan dari uji nuklir kelima Korea Utara, menurut badan cuaca negara tersebut.

Pengujian tersebut terjadi berjam-jam setelah Pyongyang mengatakan mereka berhasil membuat bom hidrogen miniatur untuk digunakan dalam rudal jangka panjang, dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un terlihat bersama sejenis bom hidrogen. Media pemerintah mengatakan bahwa rudal tersebut bisa dimasukkan ke dalam rudal balistik.

Apa yang bisa kita ketahui dari pengujian ini?

Serangkaian uji rudal terbaru telah menimbulkan kekhawatiran internasional.

Dalam laporan Minggu, kantor berita pemerintah Korea Utara KCNA mengatakan bahwa Kim Jong-un telah mengunjungi ilmuwan di institut senjata nuklir dan "membimbing kerja persenjataan nuklir".

"Institut baru-baru ini sukses dalam mengembangkan senjata nuklir," kata laporan tersebut dan menambahkan, "Dia (Kim Jong-un) mengamati bom-H dimasukkan ke dalam rudal balistik antar-benua."

Korea Utara sebelumnya mengklaim telah membuat miniatur senjata nuklir, namun pakar meragukannya. Ada juga skeptisisme akan klaim Korea Utara telah berhasil mengembangkan bom hidrogen.

Meski begitu, pengujian ini tampaknya adalah yang terbesar dan paling sukses yang pernah dilakukan Korea Utara - dan pesannya jelas. Korea Utara ingin menunjukkan bahwa mereka tahu apa yang bisa dilakukan untuk membuat hulu nuklir.

Pakar senjata nuklir Catherine Dill mengatakan pada BBC bahwa belum jelas sebenarnya apa senjata nuklir yang diuji.

"Namun menurut tanda-tanda seismik, hasil tes ini jelas memperlihatkan skala yang lebih besar dari pengujian sebelumnya."

Informasi terbaru tidak memberi indikasi jelas bahwa pengujian dilakukan atas senjata termonuklir "namun tampaknya kemungkinannya besar pada titik ini", menurutnya.

Bom hidrogen menggunak penggabungan atom untuk melepas energi dalam jumlah besar, sementara bom atom menggunakan pembelahan atom.

Apa reaksinya sejauh ini?

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan bahwa uji nuklir keenam Korea Selatan harus mendapat respons "terkuat", termasuk sanksi baru Dewan Keamanan PBB untuk "mengisolasi sepenuhnya" negara itu.

Cina, sekutu besar satu-satunya Korea Utara, mengutuk pengujian tersebut.

Korea Utara "telah mengabaikan keberatan meluas dari komunitas internasional, lagi-lagi dengan melakukan uji nuklir. Pemerintah Cina menyampaikan keberatan keras dan kecaman kuat atas pengujian ini," menurut kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan.

Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, juga mengecam pengujian tersebut dan mengatakan bahwa sanksi atas Korea Utara juga harus meliputi pembatasan perdagangan produk minyak bumi.

Bagaimana berita soal pengujian nuklir tersebut muncul?

Seismolog mulai mencatat adanya getaran permukaan tanah di area tempat Korea Utara sebelumnya melakukan uji nuklir.

Laporan awal dari USGS mencatat getaran tersebut berskala 5,6 dengan kedalaman 10km namun mereka kemudian meralatnya menjadi 6,3 dengan kedalaman 0km. Artinya, pengujian nuklir Korea Utara ini adalah yang terkuat sejauh ini.

USGS menyebut lokasi gempa terletak dekat situs pengujian Punggye-ri.Hak atas fotoEPA/USGS
Image captionUSGS menyebut lokasi gempa terletak dekat situs pengujian Punggye-ri.

Jepang membenarkan bahwa Korea Utara melakukan uji nuklir, menurut Menteri Luar Negeri Taro Kono.

Intitut Senjata Nuklir Korea Utara memberikan pernyataan berikut terkait suksesnya uji bom hidrogen:

"Ilmuwan di bidang nuklir di Korea Utara telah dengan sukses melakukan serangkaian uji nuklir bom-H untuk ICBM di uji nuklir Korea Utara pada 12:00, 3 September, sesuai dengan rencana Partai Pekerja Korea untuk membangun kekuatan nuklir strategis.

Pengujian bom-H dilakukan untuk memeriksa dan mengonfirmasi akurasi dan kredibilitas teknologi kendali kekuatan dan desain struktural internal yang baru dalam produksi bom-H untuk ditempatkan di dalam rudal antar-benua.

Hasil dari pengukuran eksperimental ini memperlihatkan spesifikasi kekuatan hulu ledak nuklir, termasuk kekuatan ledakan dan tingkat pembelahan serta penggabungan atom serta spesifikasi fisik lain, mencerminkan tahap kualitatif dari senjata termonuklir dua tahap yang sesuai dengan rancangan."(BBC/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Korea Utara
 
  Uni Eropa Dijadwalkan Siap Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Korea Utara
  Cina Berlakukan Sanksi Dagang terhadap Korea Utara
  Korea Utara Kembali Tembakkan Rudal Lintasi Jepang
  Setelah Sukses Uji 'Bom Hidrogen' Korut, Apakah Urusannya Masih Seperti Biasa?
  Gawat, Korea Utara Luncurkan Rudal Melintasi Jepang, Indonesia Mengecam
 
ads

  Berita Utama
Dipindahkan dari RSCM ke Rutan KPK, Setnov Pakai Rompi Orange dan Kursi Roda

Gubernur DKI Jakarta Gelar Apel Operasi Siaga Ibukota

Kasau: Indonesia Jaya Expo 2017 Kenalkan TNI AU Lebih Dekat dengan Masyarakat

Forum Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia Tolak Reklamasi Selamanya

 

  Berita Terkini
 
BPKH Diharapkan Investasikan Dana Haji untuk Pesawat dan Hotel Jemaah

Kebijakan Bebas Visa Tidak Datangkan Wisatawan Secara Signifikan

Aparat Hukum Diminta Selidiki Dugaan Money Laundering

Polda Metro Jaya dan APPI Menggelar Sarasehan dan Dialog UU No 42/1999 Jaminan Fidusia

Faisal Haris Siap Somasi Pelaku Rekam & Sebarkan Video Shafa Labrak Jennifer Dunn

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47E Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 8811011609

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2