Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Gaya Hidup    
Seni
Seni Rupa Bagian Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
2019-09-06 05:27:19
 

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, saat membuka Pameran Seni Rupa "Kepada Republik #5 Tanah Air", di selasar Gedung Nusantara DPR RI, Senayan.(Foto: arief/hr)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Seni rupa adalah sisi yang tidak pernah bisa dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jl. Pengangsaan Timur Nomor 56 pada 74 tahun silam atau tepatnya pada 17 Agustus 1945, terdapat sebuah lukisan berukuran 152x152 cm bernama lukisan "Memanah" yang menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak hanya itu, 28 hari setelah Indonesia Merdeka, tepatnya pada tanggal 14 September 1945 lukisan ini kembali digunakan sebagai latar belakang pada acara konferensi pers perdana bagi Bangsa Indonesia yang baru saja merdeka di hadapan pers nasional dan asing. Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, saat membuka Pameran Seni Rupa "Kepada Republik #5 Tanah Air", di selasar Gedung Nusantara DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (3/9) lalu.

"Jika kita membaca ulang sejarah pembacaan teks Proklamasi yang dilakukan di depan lukisan 'Memanah' karya Henk Ngantung, hal itu bukanlah sebuah kebetulan melainkan dengan sengaja dirancang oleh Bung Karno karena ia menginginkan agar lukisan itu menjadi latar belakang teks pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia," ujar Pimpinan DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) itu.

Politisi Partai Gerindra ini pada kesempatan yang sama mengungkapkan, pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga banyak para tokoh seniman pelukis perupa yang ikut berjuang dengan cara berkesenian. Antara lain, dengan cara membuat poster-poster yang berisi pesan propaganda kemerdekaan pada masa itu. Salah satu karya yang terkenal dari para pejuang kesenian tersebut adalah lukisan 'Ayo Bung' karya Affandi.

Lebih lanjut Fadli menjelaskan, jika menengok kembali perjuangan pada pertengahan tahun 1946 yang lalu, hampir semua seniman terkemuka bermukim di Yogyakarta untuk menyaksikan dari dekat upaya mempertahankan diri dari serangan sekutu yang berusaha merebut kembali kemerdekaan Indonesia.

"Mereka kemudian membuat karya-karya yang menampilkan perjuangan rakyat Indonesia. Jadi bisa dikatakan seni rupa adalah sisi yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan kita. Serta, menjadi salah satu instrumen dan alat perjuangan tersendiri karena melalui seni dan budaya bisa lebih membuat cepat menggugah orang bergerak dalam rangka membela dan mempertahankan Kemerdekaan RI pada masa itu," tandas Fadli.

Legislator dapil Jawa Barat V itu menutup sambutannya dengan menyampaikan DPR RI berharap melalui pameran ini spirit perjuangan para seniman di masa lalu dapat terus terpelihara. Dalam pameran-pameran terdahulu, DPR RI juga terus berusaha untuk mengganti para perupanya dari tahun ke tahun.

"Tujuannya, agar dapat menampilkan karya yang berbeda setiap tahunnya dengan karya dan pendekatan masing-masing yang berbeda-beda dari setiap perupa. Ini juga komitmen DPR untuk menjadikan ruang-ruang yang ada di DPR ini menjadi ruang seni atau art space. Semakin banyak ruang seninya akan semakin bagus," pungkas Fadli.

Acara dilanjutkan dengan peninjauan untuk memberikan apresiasi terhadap hasil karya-karya para perupa yang ditampilkan pada Pameran Seni Rupa "Kepada Republik #5 Tanah Air" oleh Fadli, dengam didampingi Anggota Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati (PDI-Perjuangan), Anggota Komisi V DPR RI Willem Wandik (Partai Demokrat), Deputi Persidangan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI Damayanti serta para Duta Besar negara sahabat.

Pameran Seni Rupa "Kepada Republik #5 Tanah Air" ini sendiri akan berlangsung pada 3 sampai 6 September 2019 dimulai sejak pukul 09.00-16.00 WIB. Pameran ini menampilkan hasil karya dari 16 seniman dan 1 komunitas sehingga berjumlah 17 peserta yaitu Akbar Linggaprana, Aming Prayitno, Amrizal, Sulaiman, Bodi Dharma, Dani King, Dio Pamola, Irwanto Lentho, Ismet Sajo, Joko Pekik, Nasirun, Sigit Raharjo, Soenarto PR, Syahrizal Pahlevi, Teufik Ali Hadzalic, Tri Susilo, Yoes Rizal, Yong Wardono dan Komunitas Adeline Art Therapy Center.(pun/sf/DPR/bh/sya)






 
   Berita Terkait > Seni
 
  Seni Rupa Bagian Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
  Festival Budaya Saman Dimulai Hari Ini Hingga 24 November 2018
  Melukis di Atas Media Kipas: Agar Anak-anak Paham Perdamaian dan Persahabatan
  Museum Basoeki Abdullah akan Gelar Pameran Lukisan dari 19 Perupa
  Zulkifli Hasan Apresiasi Project Bhinneka Mengangkat Talenta dan Karya Anak Muda
 
ads1

  Berita Utama
Wahh, Total Utang Rp 40 Triliun, Benarkah Kasus BUMN Jiwasraya Seseram Ini?

Aturan Munas Partai Golkar Tidak Boleh Bertentangan dengan Pasal 50

Komentar Beberapa Tokoh terkait Penolakan Ahok Menjadi Pejabat BUMN

ASPEK Indonesia: Menaker Mau Hapus UMK Kabupaten/ Kota, Dipastikan Rakyat Makin Miskin

 

ads2

  Berita Terkini
 
Komisi II DPRD Kaltim Konslutasi ke Kementrian ESDM

Kapolda Targetkan Ada Perwakilan Putra Putri Gorontalo Diterima di AKPOL

First Travel: Aset-aset Dirampas Negara, Pengacara Korban: 'Ini Uang Jamaah, Kok Jadi Tidak Ada Solusi?'

Palestina Kecam AS Soal Permukiman Yahudi di Tepi Barat: Ancaman Keamanan dengan Terapkan 'Hukum Rimba'

Fahri Hamzah: Pilkada Langsung Cukup di Tingkat II

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2