Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Arab Saudi
Raja Salman Pecat Anggota Keluarga Kerajaan dari Kementerian Pertahanan
2020-09-02 10:56:17
 

Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman berkuasa secara de facto untuk Arab Saudi.(Foto: Istimewa)
 
ARAB SAUDI, Berita HUKUM - Sejumlah pejabat Saudi, termasuk dua anggota keluarga kerajaan telah dipecat dari jabatan mereka di kementerian pertahanan.

Dalam sebuah keputusan kerajaan disebutkan bahwa Raja Salman telah mencopot Pangeran Fahad bin Turki dari jabatan komandan pasukan gabungan dalam koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

Putranya, Abdulaziz bin Fahad, juga dicopot dari jabatan wakil gubernur.

Kedua orang itu, bersama dengan empat pejabat lainnya, menghadapi penyelidikan atas "transaksi keuangan mencurigakan" di Kementerian Pertahanan, sebut keputusan kerajaan.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang merupakan putra raja dan dianggap sebagai penguasa Arab Saudi secara de-facto, telah mempelopori kampanye melawan dugaan korupsi di pemerintahan.

Namun, para kritikus mengatakan penangkapan tokoh-tokoh elite ini bertujuan untuk melenyapkan penghalang kekuasaan bagi pangeran.

Pada awal tahun ini, Wall Street Journal melaporkan bahwa tiga anggota senior keluarga kerajaan telah ditahan, termasuk adik raja Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan mantan putra mahkota Mohammed bin Nayef.

Peristiwa penting yang melibatkan bangsawan Saudi terjadi pada 2017, di mana puluhan tokoh keluarga kerajaan Saudi, menteri-menteri dan pengusaha telah ditawan di hotel Ritz-Carlton di Riyadh.

Sebagian besar dari mereka belakangan dibebaskan, namun setelah mencapai kesepakatan bernilai US$106,7 miliar.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman, 35 tahun, mendapat pujian internasional saat berjanji melakukan rangkaian reformasi ekonomi dan sosial negara yang sangat konservatif itu sejak berkuasa pada 2016.

Namun dia telah terlibat sejumlah skandal, termasuk pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di kedutaan Saudi di Istanbul pada 2018 dan dugaan rencana pembunuhan terhadap mantan agen intelijen Saudi di Kanada.

Dia juga dikiritik menyusul konflik berkelanjutan di Yaman, di mana Arab Saudi menyokong pasukan pro-pemerintah, serta perlakuan kasar terhadap aktivis hak-hak perempuan, meskipun sejumlah aturan diskriminatif telah dicabut seperti hak perempuan untuk mengemudi.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > Arab Saudi
 
  Raja Salman Pecat Anggota Keluarga Kerajaan dari Kementerian Pertahanan
  Arab Saudi: 3 Anggota Senior Keluarga Kerajaan Ditahan, Termasuk Adik Laki-laki Raja Salman
  Serangan Kilang Minyak Arab Saudi: Presiden Iran Minta Pasukan Asing Menjauh
  Arab Saudi: Puing-puing Senjata 'Membuktikan Iran Berada di Balik' Serangan Kilang Minyak
  Serangan Kilang Minyak Arab Saudi: AS Sebut Data Intelijen Menunjukkan Keterlibatan Iran
 
ads1

  Berita Utama
Inilah Alasan Din Syamsuddin dan Tengku Zulkarnain Tidak Lagi Jadi Pengurus MUI

Resmi Jadi Tersangka, Edhy Prabowo Nyatakan Mundur dari Waketum Gerindra dan Menteri KKP

PKS Tolak Rencana Pemerintah Hapus Premium di Kawasan Jawa Bali

Wagub Ahmad Riza Patria Ditanya 46 Pertanyaan Soal Kerumunan Massa Acara HRS

 

ads2

  Berita Terkini
 
Legislator Apresiasi Polisi Bongkar Prostitusi 'Online'

Pemanfaatan TPST Bantar Gebang Terus Dioptimalkan

Cegah Demokrasi Jalanan, JK Minta PKS Bawa Suara Umat Dengan Baik

Pemprov DKI Jakarta Raih Dua Penghargaan Bhumandala Award 2020

Kemenlu Panggil Dubes Malaysia, Menuntut Pelindungan Penuh PMI

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2