Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
India
Petir Mematikan di India: Lebih 2.500 Orang Meninggal Akibat Tersambar Setiap Tahun, Mengapa Terjadi?
2022-02-16 12:29:10
 

India mencatat lebih dari 18 juta sambaran petir sepanjang April 2020 hingga Maret 2021.(Foto: GETTY IMAGES)
 
INDIA, Berita HUKUM - Pada Maret tahun lalu, empat tukang kebun yang bekerja di sebuah kondominium di Gurgaon, --sebuah kawasan luar kota di dekat Delhi, India-- berlindung di bawah pohon ketika hujan turun.

Dalam hitungan menit, kilatan berwarna jingga melesat ke bawah batang pohon, diikuti bunyi gemuruh guntur.

Petir biasanya berlangsung kurang dari satu detik, tapi sebuah sambaran petir berdaya 300 juta volt dan 30.000 amp cukup mematikan. Petir seperti ini dapat menyebabkan udara di sekitarnya memanas hingga mencapai suhu lima kali lipat lebih tinggi dibanding suhu di permukaan matahari.

Keempat pria itu kemudian jatuh ke tanah. Satu di antaranya meninggal dunia, sedangkan yang lain selamat tapi mengalami luka bakar.

"Saya tidak ingat apa yang terjadi pada saya, juga bagaimana itu terjadi. Dalam hitungan detik semuanya hancur," kata salah satu korban kepada sebuah surat kabar di India.

Rekannya adalah salah satu dari lebih 2.500 orang India yang kehilangan nyawa akibat petir setiap tahunnya.

Data resmi menunjukkan sambaran petir telah menewaskan lebih dari 100.000 orang di negara itu sejak 1967 hingga 2019. Jumlah itu lebih dari sepertiga kasus kematian akibat bencana alam dalam kurun waktu tersebut.

Orang yang selamat dari sambaran petir pun harus hidup dengan kondisi lemah, pusing, dan kehilangan ingatan.

Sejak tiga tahun yang lalu, Badan Meteorologi India memulai prakiraan petir. Aplikasi-aplikasi seluler kini bisa melacak petir. Orang-orang diperingatkan melalui radio, TV, serta sukarelawan yang membawa megafon.

Sebuah inisiatif bernama Lightning India Resilient Campaign, yang juga telah berusia tiga tahun, berupaya meningkatkan kesiagaan di desa-desa rawan petir demi mengurangi angka kematian. Tetapi, jumlah sambaran petir juga meningkat tajam.

Studi dari lembaga nirlaba, Dewan Promosi Sistem Ketahanan Iklim menunjukkan terjadi lebih dari 18 juta sambaran petir sepanjang April 2020 hingga Maret 2021. Jumlah itu meningkat 34% dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Data satelit yang dikumpulkan oleh Institut Meteorologi Tropis India juga menunjukkan sambaran petir "meningkat pesat" antara 1995 dan 2014.

Sejumlah negara bagian di India melaporkan sambaran petir besar-besaran, tapi ada tiga negara bagian yang menyumbang 70% angka kematian yakni Odisha, Jharkhand, dan Benggala Barat. Orang-orang yang bekerja di lahan pertanian adalah yang paling rentan tersambar.

"Ada banyak sambaran petir di daerah kami. Saya masih ingat seorang bocah lelaki berusia tujuh tahun meninggal ketika dia pergi keluar saat badai untuk menjemput kerbau mereka. Sekarang kami mencoba diam di rumah," kata Sandhyarani Giri, seorang guru sekolah di Benggala Barat.

Giri tinggal di sebuah kampung nelayan berpenduduk padat di Fraserganja, sebuah wilayah yang berbatasan dengan Teluk Benggala dan berjarak 120 kilometer arah selatan dari Kolkata.

Area ini semacam titik panas sambaran petir. Sekitar 60 orang meninggal setiap tahunnya karena tersambar petir di tempat desa Giri berada.

Lanskap desa-desa pesisir ini terdiri dari lahan pertanian, telaga, serta rumah beratap seng dan jerami. Hidup di tepi laut bisa sangat berbahaya akibat badai siklon dan gelombang pasang yang terjadi. Petir lebih mungkin menyambar di darat, tetapi perairan di lepas pantai paling sering tersambar.

Pada dasarnya, petir terjadi akibat pelepasan listrik yang dipicu oleh ketidakseimbangan di dalam awan badai.

Oleh sebab itu, penduduk desa membuat konduktor petir sederhana untuk mengarahkan muatan listrik itu ke bumi

Mereka menggunakan pelek sepeda bekas, bambu, dan kabel logam. Pelek dipasang di atas tiang bambu, yang kadang tingginya mencapai sembilan meter, diikatkan ke bangunan, terutama di pusat-pusat kegiatan masyarakat dan sekolah.

Konduktor itu akan mengalirkan listrik dari sambaran petir ke bumi tanpa menyebabkan kerusakan apa pun.

Namun penelitian Lightning Resilient India Campaing menunjukkan sebagian besar korban yang tersambar meninggal setelah berlindung di bawah pohon tinggi. Penduduk lokal yang bertani dan mencari ikan demi nafkah menjadi yang paling rentan tersambar.

Sejauh ini, kampanye itu berhasil menurunkan angka kematian akibat sambaran petir hingga 60% di beberapa negara bagian.

"Tetapi kampanye pemerintah untuk membangun kesadaran berbasis masyarakat dan menjangkau orang yang benar-benar rentan di area pertanian, hutan, laut, pantai, kolam, danau, dan sungai masih kurang," kata penyelenggara kampanye tersebut, Kol Sanjay Srivastava.

Para ilmuwan mengatakan ancaman dari perubahan iklim telah menyebabkan aktivitas petir meningkat. Suhu permukaan tanah dan laut yang meningkat membuat udara di atas lebih hangat, sehingga lebih banyak energi tersedia untuk mendorong badai petir.

Sebuah studi di Universitas California, Berkeley, menunjukkan bahwa sambaran petir di AS berpotensi meningkat 12% untuk setiap derajat kenaikan suhu rata-rata. Sedangkan di India, meningkatnya urbanisasi dan berkurangnya lahan hijau telah memicu kenaikan suhu.
Badan Meteorologi India telah memulai prakiraan petir sejak tiga tahun yang lalu

"Pemanasan di darat, kelembapan di atas air, dan aerosol karena polusi udara menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi awan untuk memicu aktivitas petir. Seiring meningkatnya suhu dan polusi di India, sambaran petir juga akan meningkat," kata Direktur Dinamika Badai Petir di Institut Metereologi Tropis India.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa intensitas petir meningkat. Baru-baru ini para ilmuwan mengonfirmasi rekor kilatan petir terpanjang, yakni hampir 500 mil (805 kilometer), di langit di tiga negara bagian AS.

Sementara itu, India menargetkan angka kematian akibat petir menurun menjadi 1.200 per tahun pada 2022.

Para relawan mengadakan sosialisasi untuk membangun kesadaran dan kesiagaan orang-orang di desa untuk diam di dalam rumah dan menghindari pergi ke ladang saat badai demi menjemput ternak.

Orang-orang juga diminta untuk tidak berkumpul di bawah pohon, menjauh dari kabel listrik, dan pagar besi.

Apa yang harus dilakukan saat petir menyambar?

> Carilah perlindungan di dalam gedung atau mobil

> Apabila tidak ada tempat berteduh, berjongkok dengan kedua kaki rapat, tangan di lutut, dan kepala dimasukkan ke dalam

> Jangan berlindung di bawah pohon yang tinggi atau pohon yang berdiri sendiri

> Jika Anda berada di air, pergi lah ke pantai yang luas sesegera mungkin.(BBC/bh/sya)



 
   Berita Terkait > India
 
  Petir Mematikan di India: Lebih 2.500 Orang Meninggal Akibat Tersambar Setiap Tahun, Mengapa Terjadi?
  Kashmir Diisolir, Diblokir: Salat Jumat dan Jelang Idul Adha di Jaga Puluhan Ribu Tentara
  India Luncurkan 20 Satelit dalam Satu Misi
  India dan Iran Teken Kesepakatan Pelabuhan Bersejarah
  India Terbelah Setelah Pemimpin Hindu Mengkritik Bunda Teresa
 
ads1

  Berita Utama
KPK Tetapkan Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan 9 Orang sebagai Tersangka Kasus Dugaan Suap Perkara di MA

Heboh Video! Antrian Panjang di SPBU Kota Manna Bengkulu Selatan, BBM Langka?

Tarif Ojol Naik, Wakil Ketua MPR: Pemerintah Tidak Memahami Kesulitan Hidup Rakyat

Pemerintah Umumkan Harga BBM Pertalite Naik dari Rp 7.650 Menjadi Rp 10.000

 

ads2

  Berita Terkini
 
Anies akan Mampu Melakukan Perubahan dan Perbaikan Pembangunan Bangsa

Polisi Tetapkan 6 Tersangka, Kasus Tragedi Kanjuruhan Malang

Komunitas Bentor Polewali Dukung Firli Bahuri Maju Capres di Pilpres 2024

Tindakan Represif Personel TNI terhadap Suporter di Stadion Kanjuruhan Malang Bakal Diproses Pidana

Buntut Tragedi Kanjuruhan, Kapolres Malang dan 9 Komandan Brimob Dicopot dari Jabatannya

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2