Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Radikalisme
Penggiat Anti Radikalisme Ajak Ulama, Guru Ngaji dan Tokoh Masyarakat Bangun Narasi Kerukunan Umat
2019-11-18 09:34:25
 

Penggiat Anti Radikalisme Haidar Alwi.(Foto: BH /amp)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Salah satu tokoh dan juga Penggiat Anti Radikalisme serta Intoleransi Haidar Alwi, meminta seluruh kalangan masyarakat Indonesia membangun narasi kerukunan untuk mencegah radikalisme, juga tidak menggunakan kalimat yang dapat memicu intoleransi. Hal ini dikatakan Haidar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (17/11).

Ia mengajak seluruh masyarakat dari kalangan manapun dan golongan kepercayaan apapun untuk saling dan bersama sama menangkal serta mencegah sikap intoleran.

"Baik dari kalangan Muslim atau non-Muslim, narasi yang kita bangun itu narasi kerukunan, jangan membuat narasi yang menyinggung satu sama lainnya," kata Haidar.

Menurut Haidar, untuk mencegah munculnya sikap intoleran dan radikal maka ungkapan-ungkapan positif harus terus dibangun, termasuk di media sosial.

"Untuk menimbulkan nuansa persaudaraan dan tidak memicu konflik di kalangan masyarakat pada umumnya," ujar Haidar.

Haidar mengungkapan, kebencian yang banyak muncul di media sosial akan menimbulkan konflik di kalangan masyarakat. Sehingga, pola pikir dan kebiasaan masyarakat untuk menciptakan narasi kerukunan harus dibiasakan dan dijadikan budaya persaudaraan.

"Jadi kelompok mana saja, jangan munculkan narasi konflik karena ini juga menimbulkan terjadinya rasa permusuhan. Indonesia ini wilayah damai, wilayah aman, Oleh karena itu jangan membawa narasi konflik ke Indonesia ini," tukasnya.

Dan, lanjut Haidar, harus di pahami masyarakat Indonesia bahwasannya Indonesia adalah negara yang menjadi target bagi kaum radikal dan intoleran untuk dihancurkan.

Dalam kesempatan itu, HaidAlwi mengatakan bahwa sikap radikal dan intoleran bersumber dari pola pikir seseorang yang kemudian direpresentasikan dalam tindakan.

Pada momen hari Toleransi Sedunia yang diperingati setiap 16 Nopember, Haidar Alwi mengajak kepada para ulama, guru agama atau guru mengaji untuk mengajarkan Islam wasathoniyah (Islam kebangsaan) dan tokoh masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa.

"Mari Kita Jaga Indonesia dari Kaum radikalisme dan Intoleransi demi terciptanya kedamaian dibumi Indonesia tercinta," tandasnya.(bh/amp)




 
   Berita Terkait > Radikalisme
 
  Penggiat Anti Radikalisme Ajak Ulama, Guru Ngaji dan Tokoh Masyarakat Bangun Narasi Kerukunan Umat
  Kaji Ulang Diksi Radikalisme
  Pemerintah Diminta Lebih Militan Menghadapi Kelompok Radikal
  Jangan Lagi Muncul Isu-Isu Radikalisme
  Ustadz Abdul Somad Minta Pemerintah Keluarkan Definisi Radikal
 
ads1

  Berita Utama
Pentingnya Peran DPRD Provinsi untuk Dilibatkan dalam Musrembang Desa

Polda Metro Jaya bersama Stakeholder Luncurkan Layanan Digital E-TLE Development Program

Jaksa KPK Tuntut Hakim Kayat 10 Tahun Penjara

Pengedar Sabu di Jakarta Timur Didor, PMJ: Pelaku Sempat Rebut Senjata Polisi

 

ads2

  Berita Terkini
 
Marah ke Pendukung Zulhas, Amien Rais: Ini Bukan Partai Kampungan

Para Pemohon Uji UU KPK Sampaikan Perbaikan

Jumlah ASN Penguji UU BPJS Bertambah

Hadapi Pemakzulan karena 'Menyalahgunakan Wewenang', Presiden Trump: 'Lakukan Sekarang'

'Masjid Ramah Lingkungan' Pertama di Eropa Diresmikan Presiden Turki

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2