Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
White Crime    
Korupsi
Pemberantasan Korupsi Era Disrupsi
2018-11-07 14:46:48
 

Prof Rhenald Kasali dan komisioner KPK, Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat diskusi "Korupsi Atau Anti-Korupsi Yang Tetap Bertahan Di Era Disrupsi?".(Foto: Istimewa)
 
JAKARTA, Berita HUKUM - Masihkah kita berbelanja di toko offline di zaman seperti ini? Mayoritas dari kita pasti akan menjawab tidak. Rhenald Kasali membuka cara pandang era disrupsi dengan contoh toko luring (offline) yang perlahan ditinggalkan dan toko daring (online) yang mulai menjamur dan lebih banyak digemari.

Dalam diskusi berjudul "Korupsi Atau Anti-Korupsi Yang Tetap Bertahan Di Era Disrupsi?" pada Kamis (1/11) lalu di Gedung Merah Putih KPK, Guru Besar Universitas Indonesia yang akrab disapa Prof Rhenald membagi pandangannya bersama pegawai KPK mengenai era disrupsi ini.

Apa itu disrupsi? Prof Rhenald dengan mudah menyederhanakan istilah ini sebagai sebuah inovasi yang mengubah kehidupan yang membuat segala yang lama menjadi obsolete (ketinggalan zaman). Ia mengatakan disruption bukanlah teori baru, ini telah ada sejak 1997, namun tak terdengar karena contohnya kurang menarik. Padahal pertanyaan dasar dari riset disruption tersebut sangat menarik yaitu "why do great company failed?".

Kebangkrutan Krakatau Steel yang dikalahkan dengan bisnis baja sekelas pabrik baja Pulo Gadung yang lebih bisa mendapat untung belum cukup menjadi sorotan sebagai contoh era disrupsi mulai merajai. Pada 2012, sejak beredar kisah ambruknya perusahaan fotografi besar dunia, Kodak, barulah disrupsi menjadi hal yang menarik. Disusul dengan bangkrutnya Nokia, telepon pertama yang kita genggam sejak tahun 1990-an.

Saat ini Pertukaran uang tak lagi terjadi di toko-toko luring yang dijejali manusia setiap akhir pekan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, melainkan terjadi di toko daring setiap harinya dengan ragam aplikasi yang dengan mudah hadir di layar telepon hanya dengan satu klik. Menurut Prof Rhenald, orang lama (atau generasi terdahulu) menganggap daya beli masyarakat menurun, padahal, "Wah gede pak, semuanya online sekarang," ujar Prof Rhenald.

Cara pandang ini cukup merisaukan. Lalu setelah disrupsi kemana muaranya Prof Rhenald menjawab bahwa muaranya adalah shifhting (bergeser). Penjelasannya begini, belanja daring itu adalah hal kecil dari satu kumparan perubahan besar. Yang sebenarnya terjadi dari perubahan itu adalah perubahan kehidupan. Perubahan kehidupan selalu digerakkan oleh teknologi.

Sama halnya dengan pemberantasan korupsi di Indonesia. Perlu perubahan besar bagi komitmen pemberantasan korupsi di negeri ini. Prof Rhenald bicara mengenai big data dan open data. Banyak IT (Information Technology) yang perlu dipakai Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mempermudah penindakan maupun pencegahan yang selama ini dijalankan. Teknologi informasi yang semakin canggih akan mempersempit ruang gerak bagi para pelaku koruptif.

Di samping itu hukum dan politik pun berubah, semuanya menggunakan big data dan artificial intelligence karena itulah pemberantasan korupsi akan sangat mengandalkan big data. "Big data mempermudah KPK menemukan kaitan-kaitannya," tutup Rhenald Kasali.(kpk/bh/sya)



 

 
   Berita Terkait > Korupsi
 
  Pemberantasan Korupsi Era Disrupsi
  Cegah Korupsi, Ketua DPR Dorong Implementasi Gerakan Nasional Non Tunai
  Sekjen HMS: Kepala Daerah Tersandung Korupsi, 'Bobroknya Sistem Birokrasi'
  Pemuda Muhammadiyah Minta Jokowi Bersikap Tegas Memberantas Korupsi
  Indeks Korupsi Indonesia Masih Tinggi, Pemberantasan Korupsi Jalan di Tempat
 
ads

  Berita Utama
Keabsahan dan Eksistensi Anggota Dewan Pers Dituding Cacat Hukum

Rizal Ramli Minta Undang-Undang BPJS Segera Direvisi

Mendikbud Resmikan Peluncuran 10 Seri Buku Berjudul 'Karya Lengkap Bung Hatta''

Kombes Hengki: Polisi Menangkap 23 Preman pada 2 Lokasi di Kalideres

 

  Berita Terkini
 
Sudah Lulus Test, 77 Orang CPNS Asal Pesisir Selatan Surati Menpan

Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi Berdasarkan Petunjuk Darah di Mobil Nissan

PRM Akan Beri Masukan ke DPR Terkait RUU Pesantren dan Pendidikan Agama

Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis Meresmikan Portal Baru PMJNEWS.com

Amnesty International Cabut Penghargaan untuk Aung San Suu Kyi

 
PT. Sisnet Mediatama
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
|
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2