Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Pendidikan
Pembelajaran Daring Anak Berkebutuhan Khusus di Kesamben Tidak Berhasil. Banyak Orang Tua Tidak Bisa Zoom
2022-01-22 14:33:34
 

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bersama Bu Dwi, Kepala SLB Pelita Bangsa saat pembelajaran tatap muka sebelum pandemi.(Foto: BH /na)
 
JOMBANG, Berita HUKUM - Siang itu cuaca di kota Jombang cukup redup karena mendung. Dendi yang saat itu tengah berdiri di pinggir gawang pintu, terlihat kuyu. Setelan kaos berwarna merah terang yang ia kenakan, tak mampu menyembunyikan raut wajahnya yang tidak bersemangat kala itu.

Dendi memang terlahir dengan kondisi kecerdasan di bawah rata-rata. Hal ini membuatnya mengalami keterlambatan yang signifikan pada fungsi intelektual dan keterbatasan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini disebut sebagai disabilitas intelektual atau tunagrahita.

Secara fisik, ia terlihat lebih kurus dari anak-anak sebayanya. Berat badannya hanya 11,5 kg diusianya yang baru menginjak 9 tahun, pada bulan Maret mendatang. Padahal, menurut Kementerian Kesehatan RI, berat badan normal untuk anak usia 9 tahun berkisar antara 26 kg - 29 kg.

Selain itu, ia juga memiliki raut wajah yang cenderung datar. Namun, bukan berarti ia tidak bisa menangis ataupun tertawa. Dendi tetap bisa menangis dan tertawa seiring dengan suasana hatinya pada waktu itu.

Menurut neneknya, Khusnul Khatimah (56), Dendi sering tertawa ketika sedang berada di sekolah. Sedangkan ketika di rumah, ia sering tidak menentu sikapnya. Ia juga kerap menangis dan marah ketika ada sesuatu yang tidak cocok dengan kemauannya.

"Cucu saya ini senangnya pas di sekolahan. Dia sering tertawa lebar dan terlihat senang bersama teman-temannya. Kalau belajar dari rumah, yah jelas kebalikannya mbak," tutur Khusnul sembari tersenyum menenangkan cucunya yang mulai tantrum.

Sejak pandemi Covid-19, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pembelajaran sekolah dari rumah, untuk menekan angka penularan virus. Proses pembelajaran ini memang menjadi hal tersulit yang dialami oleh para anak-anak. Khususnya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kesamben, Jombang, Jawa Timur.

Potret kecerian mereka seolah lenyap ketika pembelajaran tatap muka di sekolah ditiadakan. Dunia sekolah yang membuat mereka nyaman dan bahagia, kini berubah menjadi dunia yang terlihat asing dan berbeda.

Mereka sering mengalami suasana hati yang berubah-ubah ketika tidak pergi ke sekolah. Dibarengi dengan sikap dan perilaku yang spontanitas, mudah menangis hingga sulit untuk dikendalikan. Dendi adalah satu dari banyak penyintas tunagrahita di Indonesia yang mengalami dampak dari sistem pembelajaran sekolah dari rumah.

"Sejak sekolah diliburkan, perilaku Dendi lumayan sulit dikendalikan. Anak ini kalau di rumah, susah dikasih tau. Bergerak terus tidak bisa diam. Kadang spontan berlari ke seberang jalan. Jantung saya serasa mau copot dibuatnya. Dendi itu nurutnya yah sama gurunya mbak, " tutur sang nenek saat ditemui di rumahnya, Jombang, (19/01)

Sebelum pandemi Covid-19 merebak, Dendi terdaftar sebagai murid kelas 1 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pelita Hati. Ia merupakah peserta didik dari keluarga prasejahtera yang menerima program sekolah gratis dari SLB Pelita Bangsa yang menaungi SLB Pelita Hati. Ayah Dendi meninggal dunia saat usianya belum genap satu tahun. Saat ini, ia tinggal berdua dengan neneknya di desa Watudakon, Kesamben, Jombang.

Menurut Kepala SLB Pelita Bangsa, Dwi Aimmatus S,S.PD, perilaku yang ditunjukkan oleh Dendi terbilang wajar terjadi. Dendi tergolong anak berkebutuhan khusus tunagrahita sedang.

Anak penyintas tunagrahita atau disabilitas intelektual umumnya memiliki kesulitan fungsi intelektualnya. Misalnya, ia sulit belajar, sulit berkomunikasi, hingga tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain.

Mereka juga mengalami kesulitan dalam berbicara, serta cenderung mengalami keterlambatan dalam duduk, merangkak, atau berjalan dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Dalam kehidupan sehari-sehari, penyintas tunagrahita ini memang sulit dalam mengendalikan sikap dan gerakannya. Mereka memiliki perkembangan belajar yang lambat. Sebagai contoh, anak usia 9 tahun tunagrahita belum bisa berbicara dan menulis.

Meskipun begitu, bukan berarti mereka tidak bisa belajar. Mereka tetap bisa belajar di sekolah khusus dengan kecepatan dan metode pembelajaran yang berbeda.

"Seperti Dendi ini, ia tergolong tunagrahita sedang. Anak ini masih bisa melakukan kontak mata dan masih paham perintah," jelas Dwi Aimmatus, (21/01).

Anak-anak berkebutuhan khusus ini memang mengalami hal yang berat saat pandemi. Lanjut Dwi, mereka yang biasanya belajar di sekolah dengan para guru dan teman-teman yang memiliki kesamaan, dengan terpaksa harus belajar dari rumah.

Metode belajar secara daring, atau pembelajaran online yang menggunakan jaringan internet, tidak bisa dilakukan oleh sebagian besar wali murid di SLB Pelita Bangsa.

"Jujur, kami para guru sempat kewalahan dan khawatir saat pandemi. Pembelajaran siswa SLB ini kan sangat bergantung pada guru yah. Dan sifat belajarnya berkelanjutan. Sedangkan saat pandemi merebak, mereka belajarnya di rumah bersama orang tua. Dan para orang tua pun juga mengalami banyak kesulitan," jelas Bu Dwi.

Kebanyakan wali murid di SLB Pelita Bangsa tidak faham cara mengoperasikan zoom meeting. Sehingga kebijakan pembelajaran daring yang ditetapkan oleh pemerintah, tidak berjalan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di SLB Pelita Bangsa.

"Banyak orang tua yang tidak faham zoom meeting. Jadi pembelajaran daring tidak terlaksana. Namun, pihak sekolah mengusahan yang terbaik untuk para siswa dengan mengirimkan guru-guru ke rumah siswa, satu persatu melalui Home Visit dan melakukan pembelajaran dari rumah. Sekolah juga menyediakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk dipakai belajar bersama orang tua, itupun tidak efektif. Karena banyak siswa yang lebih nurut sama gurunya daripada orang tuanya,"tutur Bu Dwi.

Pandemi Covid-19 ini memberikan dampak yang sangat besar dalam segala bidang. Khususnya bidang pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka memiliki masalah yang berbeda-beda. Penanganannya pun berbeda pula.

Jika pada anak penyintas tunagrahita mengalami keterlambatan intelektual, anak-anak dengan autisme, down syndrome atau celebral palsy juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

"Anak dengan autisme atau autism spectrum disorder, memiliki karakteristik yang kompleks. Di SLB Pelita Bangsa, ada 2 siswa autisme. Dalam mendidik anak autisme memang cukup sulit dikondisikan. Cara belajarnya tergantung mood".

"Contohnya seperti ini, jika mood mereka baik, kondisi mereka akan baik sepanjang hari. Akan tetapi sebaliknya, jika dari pagi mereka moodnya tidak bagus, maka sepanjang hari mereka akan tantrum. Saat pembelajaran di sekolah dulu, mood buruk pada anak autisme bisa disasarkan ke teman-teman dan gurunya. Jadi, menjadi guru SLB itu harus siap menjadi sasaran kemarahan dan tantrumnya siswa autis."

"Saya dulu pernah mengalaminya saat pembelajaran tatap muka sebelum pandemi, lengan saya digigit oleh siswa autis waktu ia tantrum. Kadang mereka ini juga menggigit teman-teman yang ada didekatnya ketika tantrum. Jadi guru SLB ini sudah biasa kena gigit dan tabok," tutur Bu Dwi sembari tertawa.

Meski begitu, ia mengaku tidak marah maupun takut saat menghadapi mereka. Ia mengatakan bahwa dalam mendidik anak-anak berkebutuhan khusus, membutuhkan kasih sayang yang tulus dan ikhlas.

Ia juga bertekad untuk terus mendidik para siswanya dengan baik. Karena ia memahami dalam kondisi saat ini, tidak banyak orang yang mau memasuki dunia pendidikan, khususnya Pendidikan untuk ABK dengan berbagai macam pertimbangan dan alasan.

"Kita mengasuh anak-anak, insya Allah ikhlas mbak. Yang bisa merasakan keikhlasan kita ya anak-anak sendiri. Aduh, jadi sedih saya kalau teringat mereka. Saya punya keinginan untuk terus bisa mendidik siswa saya dengan sebaik-baiknya. Karena saya faham untuk zaman sekarang banyak yang tidak mau memasuki dunia pendidikan khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini," tutur Sarjana Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya ini, sembari berkaca-kaca.

Ia pun menceritakan tentang dampak yang paling besar bagi anak-anak didiknya ialah, para siswa harus belajar dan mengulang lagi dari nol. Karena proses pembelajaran dari rumah saat pandemi tidak bisa terwujud dengan maksimal.

"Dampak dari pandemi yang paling besar yah, siswa mulai belajar lagi dari 0. Dan kami para guru juga akan berusaha lebih keras lagi untuk memaksimalkan pembelajaran bagi para siswa-siswi kami,"pungkasnya.(bh/na)



 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Antisipasi Laporan Bank Dunia, Pemerintah Harus Hati-Hati Tentukan Kebijakan Fiskal dan Moneter

Tiga Kampus Muhammadiyah Ini Masuk Jajaran 10 Universitas Islam Terbaik Dunia Versi Uni Rank 2021

Sinyal Prabowo untuk Siapa, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Atau Rizal Ramli?

Penjelasan Polda Metro Soal Curhatan Fahri Calon Siswa Bintara 2021 yang Tidak Lolos

 

ads2

  Berita Terkini
 
Pesawat Susi Air Hilang Kontak di Timika, 7 Penumpang Semuanya Ditemukan Selamat

DPR Terbuka Menampung Kritik dan Saran untuk RKUHP

Pengamat: Tak Elok Puan Rekam Pertemuan Megawati dan Presiden Jokowi

Implementasi UU Pengelolaan Sampah Perlu Diawasi

Hasil Rapimnas, Syaikhu Ungkap Kriteria Capres Pilihan PKS

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2