Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Nusantara    
Virus Corona
Inilah Pernyataan Pers PP Muhammadiyah Tentang Pemberlakuan New Normal
2020-05-30 01:51:55
 

 
JAKARTA, Berita HUKUM - Badai Pandemi Covid-19 yang menghantam hampir diseluruh penjuru dunia dengan angka kematian terus meningkat telah menewaskan lebih dari 362,731 orang, serta 5,877,503 orang terinfeksi. Tak terkecuali di Indonesia hingga Jumat (29/5) tercatat data meninggal sebanyak 1.520 orang, dengan kasus positif terinfeksi virus Corona 25.216 orang, serta 6.492 dinyatakan sembuh.

Pernyataan pemerintah Indonesia terkait penanganan kesehatan dengan istilah New Normal menimbulkan polemik dan kebingungan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Pimpinan pusat Muhammadiyah memberi tanggapan terkait Pemerintah Indonesia dengan dilakukannya penanganan kesehatan dengan New Normal tersebut.

Berikut pernyatan Pers PP Muhammadiyah tentang pemberlakuan New Normal Nomer: 002/PER/I.0/1/2020 tanggal 28 Mei 2020, yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H Haedar Nashir, M.Si dan Sekretaris Umum Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim

Berbagai pemberitaan dan pernyataan Pemerintah tentang "new normal" akhir-akhir ini menimbulkan tanda tanya dan kebingungan masyarakat. Di satu sisi Pemerintah masih memberlakukan PSBB tapi pada sisi lain menyampaikan pemberlakuan relaksasi. Kesimpangsiuran ini sering menjadi sumber ketegangan aparat dengan rakyat. Bahkan, demi melaksanakan aturan kadang sebagian oknum aparat menggunakan cara-cara kekerasan.

Demikian halnya dengan "new normal". Perlu ada penjelasan dari Pemerintah tentang kebijakan "new normal". Jangan sampai masyarakat membuat penafsiran masing-masing. Di satu sisi, mall dan tempat perbelanjaan mulai dibuka, sementara masjid dan tempat ibadah masih harus ditutup. Hal ini berpotensi menimbulkan ketegangan antara aparat pemerintah dengan umat dan jamaah. Padahal ormas keagamaan sejak awal konsisten dengan melaksanakan ibadah di rumah, yang sangat tidak mudah keadaanya di lapangan bagi umat dan bagi ormas sendiri demi mencegah meluasnya kedaruratan akibat wabah Covid-19.

Laporan BNPB menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 masih belum dapat diatasi. Tetapi Pemerintah justru melonggarkan aturan dan mulai mewacanakan "new normal". Apakah semuanya sudah dikaji secara valid dan seksama dari para ahli epidemiologi. Wajar jika kemudian tumbuh persepsi publik yang menilai kehidupan masyarakat dikalahkan untuk kepentingan ekonomi. Penyelamatan ekonomi memang penting, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah keselamatan jiwa masyarakat ketika wabah Covid-19 belum dapat dipastikan penurunannya.

Karena itu, Pemerintah perlu mengkaji dengan seksama pemberlakuan "new normal",dan penjelasan yang obyektif dan transparan terutama yang terkait dengan: (1) dasar kebijakan "new normal" dari aspek utama yakni kondisi penularan Covid-19 di Indonesia saat ini, (2) maksud dan tujuan "new normal"; (3) konsekuensi terhadap peraturan yang sudah berlaku, khususnya PSBB dan berbagai layanan publik, (4) jaminan daerah yang sudah dinyatakan aman atau zona hijau yang diberlakukan "new normal" (5) persiapan-persiapan yang seksama agar masyarakat tidak menjadi korban, termasuk menjaga kemungkinan masih luasnya penularan wabah Covid-19.

Pemerintah dengan segala otoritas dan sumberdaya yang dimiliki tentu memiliki legalitas kuat untuk mengambil kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan demikian akan sepenuhnya bertanggungjawab atas segala konsekuensi dari kebijakan "new normal" yang akan diterapkan di negeri tercinta.

Semua pihak di negeri ini sama-sama berharap pandemi Covid-19 segera berakhir di Indonesia maupun di mancanegara. Namun semuanya perlu keseksamaan agar tiga bulan yang telah kita usahakan selama ini berakhir baik. Semoga Allah SWT melindungi bangsa Indonesia.(muhammadiyah/bh/sya)




 
   Berita Terkait > Virus Corona
 
  Ditlantas Polda Metro Gratiskan Biaya Buat SIM 214 Petugas Medis Wisma Atlet Kemayoran
  Capai Miliaran PT EKI Keluhkan Belum Menerima Pembayaran Lelang APD COVID-19
  Rapid Test Berbayar, Gus Jazuli: Jangan Tambah Lagi Beban Masyarakat
  Krisis Ekonomi Akibat Covid-19: IMF Perkirakan 'Luka Ekonomi' karena Krisis Global Akibat Pandemi Lebih Buruk dari Perkiraan
  Wakil Ketua MPR RI: Positif Covid-19 Semakin Tinggi, Apa Kebijakan Pemerintah Agar Mampu Mengatasi Pandemi
 
ads1

  Berita Utama
Pembakaran Bendera PDIP Dibawa Ke Jalur Hukum, Edy Mulyadi: Silakan, Loe Jual Gue Borong!

Hadiri Pemusnahan Barang Bukti, Kapolri: Kita Bukan Tempat Transit Perdagangan Narkoba

Presiden PKS: Pak Jokowi Mestinya Marah Dari Dulu, Bukan Sekarang

Operasi Halilintar 2020 Sinergi Polri dan Bea Cukai Berhasil Ungkap Peredaran Narkoba Jaringan Internasional

 

ads2

  Berita Terkini
 
Pembakaran Bendera PDIP Dibawa Ke Jalur Hukum, Edy Mulyadi: Silakan, Loe Jual Gue Borong!

Ditlantas Polda Metro Gratiskan Biaya Buat SIM 214 Petugas Medis Wisma Atlet Kemayoran

Ketua Fraksi PKS Harap Kemarahan Presiden Ada Tindak Lanjutnya

Hadiri Pemusnahan Barang Bukti, Kapolri: Kita Bukan Tempat Transit Perdagangan Narkoba

Capai Miliaran PT EKI Keluhkan Belum Menerima Pembayaran Lelang APD COVID-19

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2