Beranda | Berita Utama | White Crime | Cyber Crime | EkBis | Opini | INDEX Berita
Eksekutif | Legislatif | Gaya Hidup | Selebriti | Nusantara | Internasional | Lingkungan
Politik | Pemilu | Peradilan | Perdata| Pidana | Reskrim
Internasional    
Venezuela
Bagaimana Krisis Dalam Negeri Venezuela Dapat Menjadi Masalah Global
2019-01-28 18:12:25
 

Pernyataan Guaido memecah belah dunia di antara pendukung dan penentang Maduro.(Foto: Istimewa)
 
VENEZUELA, Berita HUKUM - Krisis politik di dalam negeri Venezuela dikhawatirkan akan menjadi masalah global.

Ketika unjuk rasa jalanan yang menuntut pengunduran diri Presiden Nicolas Maduro diwarnai kekerasan, pemimpin oposisi Juan Guaido menyatakan diri sebagai presiden sementara pada hari Rabu (23/1).

Dia langsung mendapatkan dukungan Amerika Serikat, Kanada dan sejumlah negara tetangga kuat seperti Brasil, Kolombia dan Argentina.

Uni Eropa sementara itu mendesak dilakukannya pemilihan umum baru dan menyatakan dukungan kepada Dewan Nasional yang dipimpin Guiado.

Rusia dan Cina dukung Maduro

Tetapi Rusia dan Cina adalah negara besar di antara sekelompok negara kecil yang tetap mendukung Presiden Maduro.

Maduro.Hak atas fotoEPA
Image captionDiapit pendukung setianya, Maduro menuduh AS berusaha menggulingkannya.

Pada Kamis (24/1), Moskow memperingatkan bahwa pernyataan Guiado "jelas mengarah pada ketidakpastian hukum dan banjir darah".

Kementerian Luar Negeri menyatakan, "Kami menentang aksi seperti ini yang diwarnai bencana."

Sementara itu, juga pada hari Kamis, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa Cina menentang "campur tangan" asing apa pun di Venezuela.

"Cina mendukung usaha Venezuela untuk melindungi kedaulatan nasional, kemerdekaan dan stabilitas," katanya.

"Cina juga selalu mendukung prinsip tidak campur tangan negara-negara lain terkait dengan 'masalah dalam negeri dan menentang campur tangan dari pihak luar di Venezuela."

Chinese President Xi Jinping dan Nicolas Maduro.Hak atas fotoREUTERS
Image captionMenurut majalah Americas Quarterly, dari tahun 2005 sampai 2017, bank pemerintah Cina meminjamkan lebih dari US$62 miliar atau Rp871 triliun ke Venezuela.

Turki, Iran, Meksiko, Kuba dan negara-negara lainnya juga menyatakan dukungan terhadap Maduro.

Menurut juru bicara presiden Turki, Ibrahim Kalin, Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menunjukkan dukungannya dengan mengatakan, "Saudara Maduro, tetaplah teguh, kami bersamamu."

Juru bicara tersebut berbagi hashtag #WeAreMADURO.

Putus hubungan dengan AS

Tetapi tekanan dunia kemungkinan tidak akan menghilang begitu saja. Pejabat AS dan Venezuela telah terlibat dalam perang kata-kata.

Tidak lama setelah pengakuan Donald Trump terhadap Guiado sebagai presiden sementara, Maduro mengatakan dia memutus hubungan diplomatik dengan AS.

Secretary Pompeo @SecPompeo "U.S. will conduct diplomatic relations with #Venezuela through the government of interim President Guaido. U.S. does not recognize the #Maduro regime. U.S. does not consider former president Maduro to have the legal authority to break diplomatic relations. https://go.usa.gov/xEBU3.".

Dia mengatakan "seluruh staf diplomatik dan konsulat Amerika Serikat di Venezuela" diberikan waktu 72 jam untuk meninggalkan negara itu.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, kemudian mengatakan Amerika tidak akan melakukan hubungan diplomatik lewat pemerintah Maduro tetapi melalui Guaido.

"Amerika Serikat tidak memandang mantan Presiden Nicolas Maduro memiliki kewenangan hukum untuk memutus hubungan dengan AS atau menyatakan diplomat kami persona non grata," demikian isi pernyataannya.

'Semua pilihan tersedia'

Presiden Trump pertama kali menyebutkan "opsi militer" terkait dengan Venezuela pada tahun 2017 dan dia mengatakannya kembali pada hari Rabu dalam pernyataan kepada para wartawan di Gedung Putih.

"Kami tidak mempertimbangkan apa pun tetapi semua opsi tersedia," kata Trump. "Semua pilihan, selalu, semua pilihan tersedia."

Trump dapat meningkatkan tekanan terhadap Maduro lewat sanksi sektor minyak.Hak atas fotoREUTERS
Image captionTrump dapat meningkatkan tekanan terhadap Maduro lewat sanksi sektor minyak.

Media AS melaporkan Trump dapat menerapkan sanksi minyak terhadap Venezuela, menghantam sumber utama penghasilan negara dan menambah jumlah pejabat Venezuela yang dikenai sanksi.

Tetapi ini juga akan mempengaruhi kemampuan Venezuela dalam membayar kembali miliaran dolar pinjaman dari Rusia dan Cina.

Bulan lalu, di Moskow, Maduro dan rekannya di Rusia, Vladimir Putin, menyepakati persetujuan ekspor gandum Rusia ke Venezuela, di samping kontrak US$6 miliar atau Rp84 triliun sektor minyak dan tambang Venezuela.

Saat masih kaya minyak, Venezuela adalah pembeli utama peralatan militer Rusia, mulai dari jet tempur, tank sampai ke peluncur roket.

Tidak lama setelah pertemuan di Moskow, militer Rusia menerbangkan dua pesawat pembom Tu-160 "White Swan" yang mampu membawa senjata nuklir ke Caracas, untuk berlatih dengan kekuatan Venezuela.

Miriam Lanskoy, Direktur Senior Russia and Eurasia di National Endowment for Democracy, mengatakan kepada majalah Time bahwa kehadiran pembom Tu-160 "White Swan" di Caracas adalah untuk mengingatkan bahwa Rusia masih dapat menunjukkan kekuatan militer di Barat

Tupolev Tu-160.Hak atas fotoAFP
Image captionKedatangan pembom strategis Rusia di Caracas membuat marah Washington.

'Langkah terkoordinasi'

Tetapi bentrokan langsung Rusia dengan AS masih dapat dihindarkan karena para tetangga Venezuela dapat juga berperan.

Wartawan BBC, Vladimir Hernandez, melaporkan cepatnya dukungan kawasan terhadap Guiado mengisyaratkan usaha "terkoordinasi" untuk menyudutkan rezim.

"Ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Luar biasa menyaksikan bagaimana hal ini dikoordinasikan. Tidak lama setelah AS muncul (dan mengakui Guiado), Anda menyaksikan semua negara-negara ini (mengikuti) segera dalam hitungan detik, menit," katanya.

Maduro berulang kali menuduh Kolombia, di samping AS, berada di belakang usaha merusak kestabilan pemerintahannya.

Dia juga menuduh Bogota terlibat dalam usaha pembunuhan gagal dengan menggunakan pesawat tidak berawak pada bulan Agustus tahun lalu.

Berbicara pada Forum Ekonomi Dunia di Swiss, Presiden Kolombia, Ivan Duque, mengatakan Maduro seharusnya "mengundurkan diri dan membiarkan rakyat Venezuela menjadi bebas".

Presiden Ivan Duque di Davos Forum.Hak atas fotoEPA
Image captionPemipin Kolombia Ivan Duque mengatakan Maduro seharusnya "mengundurkan diri".

'Tanpa campur tangan'

Saat ditanyakan apakah campur tangan militer di Venezuela mungkin dilakukan, Duque menjawab, "Kami tidak membicarakan campur tangan militer. Kami membicarakan konsensus diplomatik dan juga dukungan rakyat Venezuela."

Wakil presiden Brasil, Jenderal Hamilton Mourao, mantan atase militer untuk Venezuela mengatakan negaranya "tidak ikut serta dalam campur tangan (militer) apa pun".

Dia mengatakan meskipun demikian pemerintahnya akan memberikan "dukungan militer, di masa depan, jika diperlukan untuk membangun kembali negara" (setelah transisi).

Saat kampanye presiden 2018, Jenderal Mourao mengatakan Brasilia seharusnya mengirimkan pasukan "sebagai bagian dari misi perdamaian internasional untuk Venezuela".(BBC/bh/sya)




 
   Berita Terkait >
 
 
 
ads1

  Berita Utama
Tuntaskan PR BPJS Kesehatan, Rakyat Jangan Dibebani Defisit BPJS

Baru Dipolemikkan, Tiba-tiba Sri Mulyani Sebut Desa Fiktif Sudah Hilang

Komisi IX Upayakan Iuran BPJS Kesehatan Peserta Mandiri Tidak Naik

Jelang Munas X Partai Golkar, Bamsoet Cooling Down agar Pendukungnya Tak Digeser dan Disingkirkan

 

ads2

  Berita Terkini
 
Menteri KKP Edhy Prabowo Janji Berikan Kapal Sitaan untuk Nelayan

Wakapolda Gorontalo Pimpin Upacara HUT Brimob ke 74

Ratusan Advokat Deklarasi Ricardo Simanjuntak dan Melli Darsa Siap Pimpin PERADI 2020 - 2025

Prahara Munaslub GINSI di Bali

Pemerintah Diminta Serius Tangani Peningkatan Jumlah Pengangguran

ads3
 
PT. Zafa Mediatama Indonesia
Kantor Redaksi & Marketing
Jl. Fatmawati Raya No 47D Lt.2
Cilandak - Jakarta Selatan 12410
Telp : +62 21 7493148
+62 85100405359

info@beritahukum.com
 
Beranda | Tentang Kami | Partner | Disclaimer | Mobile
 
  Copyright 2011 @ BeritaHUKUM.com | V2